Bangun Kilang Fiktif Rp 50 Miliar, Eks Direktur Ini Dibui 14 Tahun

Andi Saputra - detikNews
Senin, 10 Jan 2022 15:09 WIB
Poster
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Mantan Direktur PT Mahakam Gerbang Raja Migas (MGRM) Iwan Ratman dihukum 14 tahun penjara karena membangun kilang fiktif senilai Rp 50 miliar. Putusan yang dijatuhkan Pengadilan Negeri (PN) Samarinda itu dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Samarinda.

"Menguatkan Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Samarinda Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2021/PN Smr tanggal 9 Nopember 2021 yang dimintakan banding tersebut," demikian bunyi putusan PT Samarinda yang dilansir di website Mahkamah Agung (MA), Senin (10/1/2022).

Duduk sebagai ketua majelis Purnomo Amin Tjahjo dengan anggota Albertus Usada dan Dedi Ruswandi. Selain itu, Iwan diwajibkan mengembalikan uang yang dikorupsi sebesar Rp 49,4 miliar. Bila tidak, hartanya dilelang untuk menutup kerugian negara. Bila asetnya tidak cukup, diganti 5 tahun penjara.

Mengapa putusan itu harur dikuatkan? Majelis tinggi menilai saat kasus terjadi, Iwan masih sebagai pemegang saham mayoritas PT Petro TNC Indotank sebesar 80%.

"Sehingga Terdakwa masih dapat mengendalikan perseroan atau Terdakwa dapat bertindak sebagai pengendali perseroan. Dengan demikian, akan terjadi benturan kepentingan (conflict of interest)," ujar majelis.

Selain itu, terhadap keputusan bisnis untuk mendapatkan porsi saham 10 persen PT Petro TNC Indotank yang akan dibentuk dengan nilai akuisisi sebesar Rp 50 miliar dan uangnya telah dikeluarkan oleh Iwan secara bertahap, meskipun telah mendapatkan persetujuan Komisaris PT MGRM.

"Namun Terdakwa tidak mempunyai itikad baik karena keputusan bisnis tersebut tidak sejalan dengan RKAP yang ditentukan dalam RUPS," ujarnya.

"Terdakwa terus melanjutkan proses pembentukan perseroan tersebut di atas sampai mendapatkan pengesahan badan hokum, meskipun Terdakwa mengetahui telah diberhentikan oleh RUPS pada tanggal 4 Januari 2021. Dengan demikian, membuktikan Terdakwa tidak mempunyai itikad baik dan tidak professional dalam menjalankan perseroan," sambung majelis.

Putusan itu di bawah tuntutan jaksa yang menuntut 18 tahun penjara.

Sebagaimana diketahui, PT MGRM adalah perusahaan daerah (Perusda) Kab Kutai Kartanegara. Pada 2020, PT MGRM mendapatkan deviden 10 persen atau sebesar Rp 50 miliar dan akan dialihkan ke PT Petro TNC. Di mana anak terdakwa adalah pemegang 80 persen dan sisanya dipegang anaknya. Pengalihan itu terkait proyek pembangunan tangki timbul dan terminal BBM di Samboja, Kaltim.

Belakangan proyek membengkak dari Rp 600 miliar menjadi Rp 1,8 triliun. Alasannya, akan dibangun juga di Balikpapan dan Cirebon. Namun hingga kasus bergulir ke pengadilan, kilang itu tidak pernah ada.

(asp/zap)