Angka Stunting di Kota Mojokerto 6,9%, Terendah di Jawa Timur

Erika Dyah - detikNews
Minggu, 09 Jan 2022 21:14 WIB
Angka Stunting di Jatim
Foto: Pemkot Mojokerto
Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru merilis data problem stunting di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2021 yang disebut mencapai 23,5%. Di antara data tersebut, Kota Mojokerto tercatat menjadi daerah dengan problem stunting terendah, yakni di angka 6,9%.

Diketahui, Kemenkes menyebutkan daerah lain yang juga mencatat angka stunting terendah di Jatim, yakni Kota Madiun sebesar 12,4% serta Kota Blitar sebesar 12,9%. Sedangkan angka stunting tertinggi di Jatim diketahui berada di Kabupaten Bangkalan, dengan catatan angka mencapai 38,9%.

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari mengatakan pihak Pemkot Mojokerto telah menangani persoalan stunting ini mulai dari hulu ke hilir secara preventif. Adapun langkah yang dilakukan pihaknya dimulai dari calon pengantin, pada saat hamil, hingga saat bayi lahir. Ia berharap jangan sampai anak mengalami kurang gizi atau salah pola asuh.

"Pas balita udah kadung stunting kami kawal dari sisi gizi, tapi itu pun tak bisa Dinkes saja yang gerak. Ini proses keroyokan stunting, jadi lintas OPD bergerak harapannya bisa diturunkan," ujar perempuan yang akrab disapa Ning Ita dalam keterangan tertulis, Minggu (9/1/2021).

Ia menilai rendahnya angka stunting ini dapat diartikan juga sebagai wujud kesejahteraan di masyarakat Kota Mojokerto.

"Jadi sudah banyak kegiatan dari berbagai OPD misal dari Diskoperindag bagaimana inkubasi wirausaha. Seperti itu mengerek pendapatan warga miskin yang akhirnya balita kita juga yang tadinya kurang gizi jadi terangkat," jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Mojokerto, dr Farida Mariana turut menanggapi capaian survei status gizi Indonesia yang dilaksanakan Balitbang Kemenkes ini.

"Jadi mereka pakai sampling. Dan kebetulan Kota Mojokerto di-sampling cukup banyak, jadi validitas angka itu cukup tinggi dan itu survei resmi tahun 2021 kemarin," ungkap dr Farida.

Ia menambahkan, kategori stunting dalam survei ini dilihat dari hasil pemeriksaan perawakan tinggi badan yang tidak sesuai.

"Kalau dari hasil kami sekitar 515 anak. Cuma kan itu nanti yang ketemu kami konsultasikan ke dokter spesialis anak yang ada di puskesmas," lanjutnya.

dr Farida mengatakan untuk menilai stunting, nantinya perlu dilihat juga alasan yang menjadi penyebab perawakan pendek pada anak.

"Kalau misal karena orang tua pendek tak masalah. Karena dari turunan dan genetik," tandasnya.

Namun, jika penyebab perawakan tinggi badan tidak sesuai itu adalah pola asuh yang kurang atau penyakit maka hal tersebut menurutnya harus diintervensi karena inilah yang disebut dengan stunting.

(ncm/ega)