Year in Review 2021

Warga Sumsel Diajak Galakkan Urban Farming, Ini Manfaatnya

Nurcholis Maarif - detikNews
Sabtu, 08 Jan 2022 16:27 WIB
Gubernur Sumsel Ajak Masyarakat Hasilkan Pangan di Pekarangan Rumah
Foto: Dok. Pemprov Sumsel
Jakarta -

Berkebun di depan rumah atau urban farming, baik sekadar menanam tanaman hias atau tanaman pangan, menjadi salah satu kegiatan yang ngetren selama masa pandemi. Tak hanya mengisi waktu luang saat lebih banyak beraktivitas #DiRumahAja, ternyata berkebun di rumah juga memiliki segudang manfaat.

Menanam sayuran atau tanaman pangan lain selain bisa lebih hemat karena tak perlu membelinya lagi di pasar sehingga lebih hemat pengeluaran, ternyata juga menyehatkan. Sebab kamu tahu dari proses menanam, memupuk hingga memetiknya.

Produk sehat menjadi penting menjadi asupan di masa pandemi yang masih belum usai ini. Sebab setiap orang dianjurkan untuk makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Dari sisi psikologis, Psikolog Ratih zulhaqqi, MPsi, mengatakan berkebun bisa menimbulkan efek kepuasan tersendiri karena mendapatkan hasil dari menanam. Berkebun pun dapat memberikan kebahagiaan mereka yang melakukannya.

Tak hanya memberi kebutuhan asupan yang sehat dan efek bahagia, berkebun di rumah juga bahkan bisa mendatangkan cuan. Hal itu misalnya diakui pemilik Shera Farm, Syifa Rahmawati (31) yang kini sudah mulai serius menekuni bercocok tanam secara hidroponik di halaman rumah (dan kini mulai merambah ke media tanam tanah).

Bermodalkan tutorial dari internet ia kini berhasil menanam banyak jenis sayuran yang sudah dipanen untuk konsumsi pribadi hingga kemudian dijual. Ia menjual berbagai sayur seperti pakcoy, sawi, bayam, dan kangkung ke tetangganya hingga menjualnya secara online. Ia juga menjual berbagai alat untuk warga yang ingin mencoba urban farming.

Manfaat dari urban farming itu mencuri atensi berbagai stakeholder, tak terkecuali Pemerintah Provinsi Selatan (Pemprov Sumsel). Melihat potensi tersebut dan ditambah dengan surplusnya makanan pokok di Sumsel, Gubernur Sumsel Herman Deru menginisiasi dengan meluncurkan gerakan Sumsel Mandiri Pangan pada awal Desember lalu.

Gerakan Sumsel Mandiri Pangan

Lewat gerakan ini, warga Sumsel diajak untuk produktif menghasilkan pangan di pekarangan rumah. Ini sebagai langkah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menekan angka kemiskinan. Gerakan ini esensinya ialah mengubah pola pikir masyarakat dari konsumsi ke produksi pangan.

"Esensi (Sumsel Mandiri Pangan) kita adalah merubah mindset dari yang biasanya kita berharap membeli menjadi penghasil, atau biasa jadi konsumen, kita menjadi penghasil," ujar Deru kepada detikcom belum lama ini.

"Apa itu? Kebutuhan sehari-hari dan ini paling tidak untuk mengurangi biaya hidup. Jadi seperti cabai, bawang, yang selama ini masyarakat hanya berpikir untuk membeli, mencari ke pasar, yang sangat tergantung kepada wilayah lain," imbuhnya.

Salah satu realisasi dari program Sumsel Mandiri Pangan ialah dengan memberikan media tanam, bibit hingga tempat memelihara ikan kepada 250 ribu keluarga yang terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Menurutnya, hal ini akan membantu memenuhi 'kebutuhan dapur'(selain beras) dan mengurangi biaya kebutuhan keluarga.

"Kita nggak pernah hitung berapa sih kita butuh cabai di rumah tangga itu, hanya untuk makan mie instan saja harus mencari (membeli cabai) ke warung, padahal mereka bisa nggak ke warung," ujarnya.

"Ini salah satu perubahan mindset yang butuh waktu, tapi kita yakin ini bisa, dalam waktu dua tahun ini, DTKS yang disebabkan pengeluaran tinggi. Sehingga mereka terdaftar itu bisa berkurang," imbuhnya.

Diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, tingkat kemiskinan di Sumsel saat ini berada di angka 12,84%. Kepala BPS Sumsel Zulkipli mengatakan terdapat dua kategori yang menentukan kemiskinan tersebut, yakni rumah tangga miskin dan rumah tangga sangat miskin.

"Angka kemiskinan di Sumsel ini beragam. Angka kemiskinan tertinggi di Kabupaten Muratara sebesar 20,11% dan terendah terdapat di Kota Pagaralam yang hanya satu digit sebesar 9%. Kemiskinan terjadi karena adanya orang yang berada di bawah garis kemiskinan," ujar Zulkipli.

"Jadi, dalam mengukur tingkat kemiskinan, BPS menggunakan konsep basic needs approach. Artinya jika ada masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan maka dapat dikategorikan miskin," jelas Zulkipli.

Dia menilai program anyar Sumsel Mandiri Pangan ini diprediksi mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menurunkan angka kemiskinan tersebut. Melalui program tersebut, masyarakat dapat mengurangi pengeluaran biaya hidup, sehingga penghasilan yang didapat bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya.

Dia meyakini adanya program Sumsel Mandiri Pangan tersebut tentu akan berdampak pada ekonomi masyarakat.

"Di mana masyarakat nantinya memiliki kemampuan sendiri untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Bahkan, jika ini program ini berjalan baik dan terus menerus maka akan berdampak pada meningkatnya pendapatan masyarakat," pungkasnya.

(akn/ega)