ADVERTISEMENT

Blak-blakan Laksana Tri Handoko

Eijkman Gabung BRIN, Riset Vaksin Merah Putih Jadi Lebih Murah

Sudrajat - detikNews
Senin, 03 Jan 2022 06:40 WIB
Jakarta -

Peleburan Lembaga Biologi Molekular Eijkman ke dalam BRIN sama sekali tak akan mengganggu riset-riset yang tengah dilakukan, termasuk riset pembuatan vaksin Merah Putih untuk mengatasi covid-19. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr Laksana Tri Handoko, M.Sc justru menjamin proyek pembuatan vaksin tersebut akan semakin kuat, baik dari sisi kapasitas, dukungan SDM, maupun anggarannya. Bahkan harganya pun akan lebih murah dari sebelumnya.

"Kapasitas Eijkman tentu akan menjadi lebih besar dan makin kuat karena bersinergi dan terintegrasi dengan Tim LIPI di Cibinong. Sehingga biaya per sample bisa lebih murah dari semula Rp 2-4 juta, sekarang bisa kita tekan menjadi kurang dari satu juta," papar Tri Handoko Seto kepada Tim Blak-blakan detikcom, Minggu (2/1/2022).

Peleburan Eijkman ke dalam BRIN, ia melanjutkan, justru untuk memperkuat eksistensi, kapasitas, sumber daya, dan pendanaan lembaga tersebut. Sebab selama ini Eijkman bukan Lembaga Pemerintah melainkan cuma unit adhoc dari Kementerian Riset.

"Sejak diaktifkan kembali pada 1992, Eijkmen itu belum pernah menjadi Lembaga resmi pemerintah. Dia itu unit ad hoc dari Kemenristek, akibatnya PNS di sana tak bisa menjadi peneliti karena Kemenristek bukan lembaga riset," papar mantan Kepala LIPI itu.

Selama ini, kata Handoko yang meriah Doktor Fisika Partikel Elementer Teoritik dari Universitas Hiroshima, periset di Eijkman jumlahnya tak sampai 40 orang. Tapi Eijkman memiliki lebih dari 100 orang tenaga honorer. Perekrutan ini yang secara legal bermasalah dan berdampak kepada mereka yang direkrut itu.

Seharusnya, sejak bertahun-tahun lalu, setiap kali merekrut orang penanggung jawab di Eijkman meminta izin atau mendapatkan izin dari Menristek atau Sekjen. Karena bagaimana pun mereka menggunakan uang milik negara, meskipun mungkin asalnya dari proyek yang sedang mereka kerjakan. "Jadi gak bisa, gak boleh unit kerja merekrut orang seenaknya saja," tegas Laksana Tri Handoko.

Sesuai aturan, masa kerja tenaga honorer itu cuma setahun. Kalau pun ada tenaga yang merasa telah bekerja hingga belasan tahun, secara aturan mereka dianggap bekerja setahun. Terhadap para tenaga honorer itu pun sesuai aturan bila tidak ada perpanjangan kontrak tidak diberikan kompensasi atau pesangon.

Laksana Tri Handoko yang meraih Habibie Award (2004) dan Achmad Bakrie Award (2008) menepis anggapan seolah peleburan Eijkman ke dalam BRIN berarti membubarkan lembaga penelitian yang sudah berdiri sejak 1888 tersebut. Ia menegaskan peleburan Lembaga Eijkman ke BRIN justru melembagakan Eijkman sebagai lembaga pemerintah, yakni Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman.

Ia juga menjamin proyek pembuatan Vaksin Merah Putih terkait Covid-19 justru akan semakin kuat, baik dari sisi kapasitas, dukungan SDM, maupun anggarannya. Bahkan, kata Laksana Tri Handoko, harga vaksin Merah Putih akan lebih murah dari sebelumnya.

"Kapasitas Eijkman tentu akan menjadi lebih besar dan makin kuat karena bersinergi dan terintegrasi dengan Tim LIPI di Cibinong. Sehingga biaya per sample bisa lebih murah dari semula Rp 2-4 juta, sekarang bisa kita tekan menjadi kurang dari satu juta," papar Tri Handoko Seto.

Pada bagian lain, lelaki kelahiran Malang, 17 Mei 1968 itu memaparkan dua problem utama riset dan inovasi di Indonesia. Juga timpangnya perbandingan pengelolaan riset oleh pemerintah dan swasta, serta minimnya anggaran riset kita.

Dia juga menjelaskan alasan mantan Presiden RI Megawati Sukarnoputri menjadi Ketua Dewan Pengarah BRIN. Selengkapnya, saksikan Blak-blakan Laksana Seto Handoko, "BRIN, Eijkman, dan Megawati" di detikcom, Senin (3/1/2022).

(jat/jat)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT