Tak Terdesak Jadi Alasan Pria Tikam Begal Jadi Tersangka di Medan

ADVERTISEMENT

Tak Terdesak Jadi Alasan Pria Tikam Begal Jadi Tersangka di Medan

Haris Fadhil - detikNews
Sabtu, 01 Jan 2022 20:42 WIB
Close up of Hand with knife following young terrified man ,Bandit is holding a knife in hand. Threat Concept
Ilustrasi penikaman (Foto: Getty Images/iStockphoto/chingyunsong)

Dia mengatakan DI mengaku membawa pisau untuk menjaga diri saat melintasi kawasan itu. Tatan mengatakan DI menganggap kawasan itu rawan.

Selain itu, Tatan menegaskan polisi juga memburu tiga orang diduga begal yang terlibat pada peristiwa itu. Tatan juga mengatakan DI tidak ditahan karena bersikap kooperatif.

"Tidak kita tahan karena Tersangka menyerahkan diri dan diantar langsung oleh orang tuanya. Penyidik menyimpulkan bahwa tersangka kooperatif dan pihak keluarga memberi jaminan yang bersangkutan tidak melarikan diri dan kita ketahui bersama tersangka juga korban dari pelaku curas," ujar Tatan.

Disorot Anggota Komisi III DPR

Anggota Komisi III DPR Arsul Sani menyoroti kasus ini. Dia mengatakan penetapan tersangka itu harus diuji apakah masuk kategori pembelaan diri berlebihan (noodweer exces) atau tidak.

"Kasus pria di Medan yang menjadi tersangka karena menikam begal dirinya itu akan diuji apakah masuk atau tidak apa yang dalam hukum pidana dikategorikan sebagai pembelaan diri yang berlebihan atau melampaui batas (noodweer exces) sebagaimana diatur dalam Pasal 49 ayat 2 KUHP," kata Arsul.

Dia berharap polisi bisa memberi penjelasan detail soal penetapan tersangka terhadap DI. Arsul mengatakan penjelasan lengkap diperlukan agar kasus ini tidak dilihat sebagai korban malah jadi tersangka.

"Saya berharap polisi bisa nantinya menjelaskan alasan menjadikan korban begal tersebut menjadi tersangka, bisa jadi juga kasusnya masuk dalam kategori noodweer exces tadi. Jika tanpa penjelasan, yang akan berkembang di ruang publik bahwa korban kejahatan kok malah menjadi tersangka, padahal secara hukum pidananya memang ada kemungkinan yang terjadi adalah pembelaan diri yang berlebihan dan memang hal ini juga tidak diperkenankan dalam hukum pidana," ujar Arsul.

Arsul menyarankan DI agar didampingi penasihat hukum untuk memastikan tindakan yang dilakukan merupakan pembelaan diri wajar. Dia juga menyebut Polri sudah tepat tidak menahan DI.

"Tentu sebaiknya didampingi penasihat hukum untuk memastikan bahwa yang dilakukannya adalah pembelaan yang wajar, bukan noodweer exces," tuturnya.


(haf/haf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT