Jadi Presiden, RI Akan Bawa G20 Jadi 'Lokomotif' Pemulihan Dunia

Jihaan Khoirunnisa - detikNews
Jumat, 31 Des 2021 22:33 WIB
Menlu Retno Marsudi.
Foto: Rahel/detikcom
Jakarta -

Presidensi Indonesia di G20 telah resmi dimulai pada tanggal 1 Desember 2021. Dalam opening ceremony beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa presidensi di G20 merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk berkontribusi bagi pemulihan dunia.

"Ini adalah sebuah kepercayaan dan kehormatan bagi Indonesia menerima presidensi G20. Kepercayaan ini adalah kesempatan bagi Indonesia untuk berkontribusi lebih besar bagi pemulihan ekonomi dunia untuk membangun tata kelola dunia yang lebih sehat, lebih adil dan berkelanjutan, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial," kata Jokowi.

Sebagai organisasi yang mencakup 60% populasi dunia, 80% PDB dunia, dan 75% perdagangan global, G20 memiliki peran krusial sebagai lokomotif dalam membawa dunia agar kembali pulih dari pandemi. Indonesia akan memastikan G20 dapat menjalankan peran tersebut untuk kepentingan semua negara.

"Kita ingin Presidensi Indonesia dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi upaya dunia untuk pulih secara bersama-sama, untuk pulih secara lebih kuat," kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi kepada detikcom, Kamis (30/12/2021).

Adapun tema yang diangkat Indonesia dalam Presidensi di G20 adalah "Recover Together, Recover Stronger." Tema ini menunjukkan semangat yang dibawa Indonesia dalam Presidensi, yaitu untuk membawa dunia pulih dari pandemi secara bersama-sama dan menjadi lebih kuat.

"Recover dan stronger ini merupakan tujuan yang ingin kita capai, pulih secara lebih kuat. Caranya bagaimana? Caranya adalah di kata together, di kata inklusif. Together itu berarti inklusif, together berarti kerja sama. Sehingga tema Recover Rogether, Recover Stronger ini memiliki makna yang sangat dalam," kata Retno.

Dia menambahkan, jika dunia ingin pulih lebih kuat ,maka tidak ada pilihan lain kecuali dengan kerja sama dan solidaritas. Meski terlihat simpel, namun nyatanya kerja sama ini bukan sesuatu yang mudah. Buktinya, selama pandemi rivalitas antar-negara justru meningkat.

"Kalau kita bicara mengenai kerja sama, inclusiveness, ini warna Indonesia sekali. Diplomasi Indonesia dikenal dengan warna ini, warna yang selalu ingin menjembatani perbedaan, memperkokoh kerja sama, kolaborasi. Ini menjadi ciri khas Indonesia," ujar Retno.

Dalam presidensi G20, Indonesia ingin memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang. Meskipun G20 merupakan kelompok negara besar, namun Indonesia ingin kepentingan negara-negara berkembang juga terwadahi. Untuk itu Indonesia mendorong tiga agenda utama, yaitu memperkuat arsitektur kesehatan global, transisi energi, dan transformasi digital.

"Transisi energi ini merupakan bagian yg sangat penting, agar ekonomi dunia pulih, hijau, dan berkelanjutan. Sedangkan transformasi digital juga mengandung ruh inklusivitas, antara lain kita berjuang untuk UMKM, untuk kaum perempuan, untuk kaum disabilitas agar memiliki akses yang sama terhadap transformasi digital," kata Retno.

Adapun dari sisi domestik, Presidensi Indonesia juga membawa manfaat nyata. Selain bentuk kehormatan dan tanggung jawab, Presidensi G20 juga menunjukkan kepercayaan dunia kepada Indonesia.

"Pada saat kita bicara mengenai trust dunia, maka trust itu tidak bisa dihitung dengan angka, dan turunannya akan banyak sekali," kata Retno.

Misalnya, kepercayaan kepada Indonesia akan berbuah kepercayaan untuk berinvestasi di Indonesia, kepercayaan untuk datang ke Indonesia sebagai turis, dan lain sebagainya.

"Jadi trust itu mahal harganya, dan kita ingin trust itu betul-betul kita jaga, kita pelihara, kalau bisa kita tingkatkan pada saat kita menjadi Presiden G20," imbuh Retno.

Itu adalah manfaat jangka panjang. Sedangkan secara jangka pendek, pertemuan-pertemuan G20 yang banyak jumlahnya (sekitar 150 pertemuan) akan berdampak positif bagi bisnis hospitality dan UMKM di sekitar lokasi pertemuan. Meski hanya 20 negara, namun jumlah delegasi pertemuan G20 biasanya banyak.

"Jadi kita akan berusaha untuk memaksimalkan presidensi kita untuk memiliki makna bagi Indonesia, tidak hanya makna ekonomi jangka pendek, tetapi juga makna ekonomi dan politik jangka panjang," tandasnya.

(akn/ega)