ADVERTISEMENT

Membedah Kekuatan-Kelemahan Said Aqil Vs Yahya Staquf di Muktamar NU

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Kamis, 23 Des 2021 06:03 WIB
Kolase Said Aqil dan Yahya Staquf (dok. detikcom).
Kolase Said Aqil dan Yahya Staquf (dok. detikcom).
Jakarta -

Said Aqil Siradj dan Yahya Cholil Staquf muncul sebagai dua sosok kuat yang bakal bertarung dalam pemilihan Ketum PBNU di Muktamar ke-34 NU. Dari keduanya, siapa yang berpeluang besar menjadi Ketum PBNU?

Pengamat politik, AS Hikam menilai Said Aqil dan Yahya Staquf sama-sama memiliki kekuatan dan kelemahan untuk menjadi Ketum PBNU. Mantan Menristek ini menilai Said Aqil memiliki kekuatan karena sebagai petahana.

"Kalau dari SAS, yang jelas kekuatannya dia adalah incumbent. Biasanya kalau incumbent atau petahana itu memang sudah memiliki prestasi-prestasi atau capai-capaian, dan kemudian jejaring-jejaring sampai ke bawah dalam pengertian struktural," kata AS Hikam kepada wartawan, Rabu (22/12/2021).

Menurut AS Hikam, cara pemilihan juga memiliki pengaruh penting dalam pemilihan Ketum PBNU. Menurutnya, jika cara pemilihan masih sama dengan sebelumnya, hal itu akan menguntungkan Said Aqil sebagai petahana.

Sebagai informasi, setidaknya ada dua cara pemilihan yang muncul saat ini. Dua cara pemilihan itu yakni Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) yang kabarnya diinginkan kubu Said Aqil dan voting yang isunya didorong oleh kubu Yahya Staquf.

"Kalau masih tetap atau belum berubah maka untuk Ketum PBNU yang memilih cabang dan wilayah. Nah, secara struktural umumnya incumbent itu akan mempunyai pengaruh struktural ke bawah," ujarnya.

Keunggulan Said Aqil lainnya menurut AS Hikam adalah bisa menunjukkan keberhasilan organisasi, seperti yang kerap didengungkan pendukungnya, yakni menciptakan puluhan universitas, pengakuan dunia Islam, prestasi NU kerja sama dengan pemerintah, dan kerja sama internasional.

"Itu yang akan juga diinginkan, dilanjutkan, oleh beliau pada periode yang akan datang kalau beliau menjadi lagi," ucapnya.

AS HikamAS Hikam (Ari Saputra/detikcom)

AS Hikam kemudian bicara kelemahan Said Aqil sebagai petahana Ketum PBNU. Menurut dia, muncul ke permukaan isu bahwa PBNU di bawah kepemimpinan Said Aqil lebih cenderung politis. Sehingga, kata AS Hikam, muncul anggapan belakang ini bahwa PBNU mudah diintervensi kekuatan politik.

"Kelemahan dari incumbent tentu saja banyak ya, melihat misalnya saja di bawah kepemimpinan Said Aqil, NU menjadi lebih cenderung lebih politis. Itu dianggap lawannya sebagai suatu kerugian, karena NU kemudian menjadi sangat mudah diintervensi kekuatan politik terutama di tingkat elite," sebutnya.

AS Hikam menilai, anggapan mudah diintervensi kekuatan politik itu bisa jadi dipakai lawan Said Aqil. Sebab, menurutnya hal itu bertabrakan dengan warisan Abdurahman Wahid atau Gus Dur bahwa NU sebagai gerakan masyarakat sipil.

"Kelemahan itu yang mungkin dipakai, dieksploitasi, oleh lawannya," ucapnya.

AS Hikam lalu menganalisis kekuatan atau keunggulan Yahya Cholil Staquf. Menurutnya, Yahya Staquf unggul dalam gerakan di kancah internasional.

"Kelebihannya beliau ini juga orang sudah cukup lama berkecimpung di dalam organisasi dan mempunyai kemampuan untuk melakukan manuver ke internasional, kan begitu," katanya.

"Yang kedua, beliau juga punya janji akan memperbaiki manajemen struktural NU, yang juga menginginkan lebih independen, bahkan beliau itu sudah mengatakan, menjanjikan, bahwa pemimpin PBNU nanti tidak akan cawe-cawe atau terlibat di dalam sebagai capres, sebagai cawapres, dan sebagainya itu," sambungnya.

Menurut dia, hal itu membuat Yahya Staquf seolah-olah ingin menunjukkan agar NU semakin menjadi basis masyarakat sipil. Di sisi lain, keunggulan Yahya Staquf masih relatif muda, sehingga dianggap bisa melakukan kerja-kerja yang sifatnya aktivisme.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Saksikan Video 'Pleno Muktamar NU Sempat Memanas, Ini Penjelasan Panitia':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT