ADVERTISEMENT

Perkara Sogokan Rachel Vennya Tuai Tanda Tanya

Tim detikcom - detikNews
Senin, 13 Des 2021 21:33 WIB
Terdakwa Rachel Vennya bersama kekasihnya Salim Nauderer saat menjalani sidang perdana terkait pelanggaran karantina di Pengadilan Negeri Tangerang, Tangerang, Jumat, (10/12).
Rachel Vennya dkk saat sidang kasus kabur dari karantina. (Palevi/detikcom)

Beda Keterangan Polda Metro Jaya

Pengakuan suap yang dilakukan Rachel Vennya ini berbuntut perbedaan keterangan dari pihak Polda Metro Jaya. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan sebelumnya menyampaikan bahwa Rachel Vennya tidak menyampaikan tindakan suap yang dilakukannya ke polisi.

"Kita lihat dulu nanti dalam keterangan yang disampaikan dalam persidangan gitu, kan persidangannya udah vonis. Nanti kita akan pelajari dulu ya kalau memang betul (dugaan suap). Nah, Rachel pada saat pemeriksaan di Polda kan tidak menyebutkan gitu kalau nggak salah, dia mengungkapkan itu dalam persidangan," kata Zulpan saat dihubungi, Sabtu (11/12).

Zulpan mengatakan, soal uang sogokan Rp 40 juta itu adalah fakta persidangan yang diungkap oleh Rachel Vennya. Namun penyidik perlu membuktikan ucapan Rachel Vennya itu.

"Kan harus dibuktikan dulu betul nggak itu. Bagaimana buktinya dia ini. Kan mengatakan itu memberikan uang kepada orang itu, ada buktinya apa nggak? Dalam bentuk transfer, dalam bentuk apa? Kita tidak ingin terburu-buru. Kan ada asas praduga tak bersalah, begitu ya," tuturnya.

"Kalau penanganan di Polda kan Rachel tidak melakukan karantina, kan begitu, itu yang menjadi persoalan pelanggar Undang-Undang Kekarantinaan. Kan persidangannya udah vonis," imbuhnya.

Namun, Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat membantah bahwa polisi tak tahu soal Rachel Vennya menyogok Rp 40 juta ke staf DPR, Ovelina Pratiwi, untuk lolos karantina. Tubagus mengatakan keterangan soal sogokan itu tertuang dalam berita acara pemeriksaan (BAP) Rachel Vennya.

"Dia (Ovelina) jadi tersangka gara-gara itu, dia membantu orang itu (Rachel) ada imbalan Rp 40 juta. Di berkas itu ada. Kenapa itu muncul di pengadilan, karena ada di berkas," ujar Kombes Tubagus Ade Hidayat kepada detikcom, Senin (13/12/2021).

BAP ini kemudian dijadikan jaksa penuntut umum (JPU) untuk membuat surat dakwaan.

"Kan ada di berkas, berarti sudah diklarifikasi. Kenapa hakim menanyakan itu, mengklarifikasi yang ada di berkas," ucap Tubagus.

Ovelina Bukan PNS

Terkait suap-menyuap Rachel Vennya dan Ovelina Pratiwi, Tubagus mengatakan pihaknya tidak bisa menjeratnya dengan undang-undang khusus tipikor karena status Ovelina bukan pegawai negeri sipil (PNS).

"Kalau misalnya mau dijadikan kepada tipikor, tipikor itu masuknya dia jadi pegawai negeri kan subjek hukumnya. Kalau misalnya ada temuan itu kemudian mau disidik terpenuhi atau tidak terpenuhi masalah tipikornya, itu kan subjek hukumnya pegawai negeri untuk berbuat tidak berbuat ini kan OP (statusnya) dia bukan apa-apa, dia mendapat imbalan itu. Karena itu, makanya dia ditetapkan sebagai tersangka," papar Tubagus.

Oleh karena Ovelina bukan berstatus sebagai PNS, maka polisi menjeratnya dengan pasal turut serta Pasal 55 KUHP dalam penyertaan kasus kabur karantina Rachel Vennya itu.

"Kira-kira dia itu kan membantu, makanya diterapkan di Pasal itu (Pasal 55 KUHP). Dia bukan pegawai negeri, pejabat atau apa. Dia dapat imbalan itu, karena itu dia jadi tersangka," tuturnya.

Polisi kaji orang di balik Ovelina. Simak di halaman selanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT