Ironi Olvah Alhamid Teriak Setop Rasis Berujung Maaf dan Klarifikasi

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 08 Des 2021 21:17 WIB
Finalis Puteri Indonesia 2015, Olvah Alhamid ( Instagram @olvaholvah)
Finalis Puteri Indonesia 2015, Olvah Alhamid (Instagram @olvaholvah)
Jakarta -

Finalis Puteri Indonesia 2015, Olvah Alhamid, menjadi ironi. Dia sering mengaku sebagai pejuang antidiskriminasi, namun meminta maaf atas videonya yang berbau rasis.

Olvah Alhamid merupakan finalis Puteri Indonesia perwakilan dari Papua Barat. Dalam akun Instagramnya, Olvah menuliskan dalam biodatanya sebagai Pejuang Stop Rasisme & Diskriminasi.

Kasus itu bermula dari video yang berasal dari story Instagram @olvaholvah itu muncul di sebuah video TikTok dan viral di Twitter. Dalam video tersebut, Olvah baru sampai di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

Dia melihat beberapa penumpang yang juga baru sampai di bandara. Dia lantas menyebut orang-orang yang lewat itu dengan nada rasis.

"Nih orang-orang ini orang China semua nih. Mereka takut loh, takut ama kita, padahal mereka yang bawa penyakit ke Indonesia," kata Olvah dalam video seperti dilihat detikcom, Rabu (8/12/2021).

Tak sampai di situ saja. Olvah juga meneriaki orang-orang itu.

"Hei China-china, hei hua huh!" ujarnya.


Olvah Minta Maaf

Olvah buka suara soal video viral tersebut. Dia meminta maaf dan tidak membenarkan sama sekali sikapnya dalam video tersebut.

"Di sini saya hanya ingin mengklarifikasi, mungkin teman-teman sudah melihat video viral, yang tentang saya di Bandara Soekarno-Hatta. Dan saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya, sedalam-dalamnya terhadap apa yang saya bilang dalam video itu. Yang seharusnya saya tidak saya lakukan. Apa pun penjelasan saya di sini tidak membenarkan sikap saya saat itu," kata Olvah dalam video yang ia unggah di akun Instagramnya, seperti dilihat detikcom, Rabu (8/12/2021).

Olvah lanjut bercerita pengalaman ketika menjadi korban perlakuan rasis dari ras tertentu. Tak hanya dengan kata, ia mengaku pernah diludahi.

"Hanya saja memang di masa lalu saya sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan yang menimbulkan luka mendalam terhadap saya. Terutama dari ras-ras tertentu dari Indonesia. Khususnya ras China," tuturnya.

"Saya tiga tahun sekolah di Surabaya, di sana mendapatkan perlakuan yang sangat-sangat tidak menyenangkan. Begitu juga dengan kakak saya. Begitu pula orang tua saya. Orang tua saya pernah berjalan dengan saya di suatu mal, dan kami juga diludahi oleh beberapa orang itu," lanjutnya.