Wanti-wanti Polisi-Wagub DKI soal Rencana Pemuda Pancasila Demo Lagi

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 27 Nov 2021 08:03 WIB
Massa Pemuda Pancasila mulai mendatangi Gedung DPR. Akibatnya, arus lalu lintas di Jalan Gatot Subroto pun tersendat. Ini fotonya.
Ormas Pemuda Pancasila saat demo DPR, Kamis (Andhika Prasetia/detikcom)

Polisi Wanti-wanti Pemuda Pancasila Jika Demo Lagi

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan mengatakan Pemuda Pancasila tak bisa sekonyong-konyong turun ke jalan. Ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi jika ormas PP akan demo lagi.

"Tentunya demo atau menyampaikan aspirasi itu kan ada ketentuannya ya. Harus menyampaikan ke kepolisian," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan saat dihubungi, Jumat (26/11).

Zulpan mengatakan pihaknya menghormati hak menyampaikan pendapat di muka umum. Dia menyebut, jika persyaratan aksi telah terpenuhi, kepolisian akan melakukan pengamanan.

Namun Zulpan kembali mengingatkan agar tidak terulang demonstrasi anarkistis seperti Kamis (25/11) kemarin.

"Kita juga nanti apabila ada penyampaian (pendapat di muka umum), tentunya akan kami berikan pelayanan dan pengamanan. Sepanjang itu tidak anarkis dan tidak brutal, tidak menyalahi aturan, Polri akan mengamankan," terang Zulpan.

Wagub DKI Minta Massa Tak Anarkistis

Wakil Gubernur DKI Jakarta A Riza Patria mempersilakan apabila Pemuda Pancasila hendak demo lagi. Tetapi ia mewanti-wanti massa agar demo berjalan tertib dan damai.

Riza meminta setiap ormas yang hendak berunjuk rasa agar tidak membuat pelanggaran hukum. Riza mewanti-wanti PP agar tidak melakukan kekerasan di demo.

"Demo boleh tapi tolong diatur secara baik, teratur. Jangan ada anarkis, apalagi pemukulan," ujar Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (26/11).

Riza meminta agar seluruh ormas yang ada hidup rukun.

"Semua organisasi di Jakarta kami minta selalu rukun, jangan sampai terjadi konflik, jangan terjadi tawuran, apalagi terjadi saling pukul-memukul, apalagi menggunakan senjata tajam, itu tentu tidak dibenarkan," kata Riza.


(mea/mea)