WN Rusia di Bali Ngaku Interpol Didakwa Peras Pengusaha Uzbekistan

Sui Suadnyana - detikNews
Rabu, 24 Nov 2021 00:02 WIB
Caucasian woman holding gavel
Ilustrasi (iStock)
Denpasar -

Warga negara (WN) Rusia di Bali bernama Evgenii Bagriantsev menjalani sidang dugaan kasus pemerasan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Pria tersebut didakwa melakukan pemerasan terhadap pengusaha Uzbekistan bernama Nikolay Romanov senilai Rp 171 juta.

"Jadi total kerugian yang dialami saksi Nikolay Romanov sebesar Rp 171 juta," kata jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Badung, I Made Dipa Ambara saat membacakan surat dakwaan, Selasa (23/11/2021).

Aksi kejahatan tersebut dilakukan Evgenii Bagriantsev bersama dua orang rekannya yang berstatus daftar pencarian orang (DPO) yakni Maxim Zhilitisov dan Agung. Mereka mendatangi tempat kerja korban di Jalan Batubolong, Kabupaten Badung, pada Rabu (17/2).

Saat itu mereka mengatakan bahwa usaha rental sepeda motor milik Nikolay Romanov sebagian adalah milik Dimitri Babaev. Dimitri Babaev dikatakan oleh mereka sedang mempunyai masalah hukum dan dicari pihak kepolisian.

"Terdakwa Evgenii Bagriantsev pada saat itu mengaku sebagai informan/mata-mata dari Interpol dan mengatakan kepada saksi Nikolay Romanov akan mendapatkan masalah karena akan dianggap bersekongkol dengan Dimitri Babaev," ucap Dipa Ambara.

Kemudian terdakwa Evgenii Bagriantsev meminta Nikolay Romanov menyusun daftar sepeda motor milik Dimitri Babaev yang berjumlah 21 unit. Pada sore harinya, Nikolay Romanov menyerahkan daftar 21 unit sepeda motor beserta buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) sepeda motor tersebut. Sepeda motor tersebut diambil secara bertahap sampai 26 Maret 2021.

Kemudian pada 22 Mei 2021 terdakwa Evgenii Bagriantsev mengancam Nikolay Romanov dengan mengirimkan pesan WhatsApp. Isinya menjelaskan berbagai pelanggaran yang ditemukan ditempat kerja Nikolay Romanov sehingga sebagai pemilik bisa dihukum penjara satu sampai empat tahun penjara dan denda Rp 400 juta.

Terdakwa Evgenii Bagriantsev meminta untuk menyelasaikan masalah tersebut. Terdakwa menelepon Nikolay Romanov untuk meminta uang sebesar Rp 230 juta, namun Nikolay Romanov menjelaskan kepada terdakwa tidak memiliki uang sebanyak tersebut.

"Terdakwa juga meminta saksi Nikolay Romanov untuk mengirimkan uang tersebut melalui transfer ATM Permata milik terdakwa Evgenii Bagriantsev dan saksi Nikolay Romanov pun memberikan uang tersebut melalui transfer pada tanggal 22 Maret 2021 sampai dengan tanggal 23 Maret 2021 secara bertahap kepada terdakwa," jelas Dipa Ambara.