Curhat Sekuriti Bandara Bali Sebab Bertato-Tindik Diancam Pecat

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 23 Nov 2021 22:46 WIB
Petugas melintas di area Terminal Internasional menjelang pembukaan kembali penerbangan internasional di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Rabu (13/10/2021). Bandara Ngurah Rai akan dibuka kembali untuk melayani penerbangan internasional pada Kamis (14/10) besok. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.
Bandara I Gusti Ngurah Rai (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)
Denpasar -

Sekuriti Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, curhat kepada anggota DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta. Mereka mengeluh soal aturan sekuriti tak boleh bertato dan bertindik.

Sebanyak 300 petugas sekuriti Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali mengaku terancam dipecat karena memiliki tato dan tindik. Mereka menyebut PT Angkasa Pura Supports telah mengeluarkan aturan melarang dan akan memberhentikan sekuriti yang memiliki tato dan tindik.

"Kalau saya sekarang yang bisa saya kumpulkan, artinya yang satu visi dan misi kira-kira 130 (orang). Tapi rencana perusahaan itu ada efisiensi hampir 300-an," kata perwakilan sekuriti, Agus Amik Santosa, saat dimintai konfirmasi detikcom, Selasa (23/1/2021).

Amik PT Angkasa Pura Supports telah mengeluarkan surat edaran. Isinya, bakal melakukan seleksi ulang bagi para pegawainya.

Dalam surat edaran itu, terdapat dua kriteria yang dianggap memberatkan para sekuriti. Pertama, tidak boleh bertato dan bertindik. Kemudian yang kedua, batas umur maksimal 45 tahun.

"Nah di sisi lain kami yang sudah bekerja cukup lama, antara 13 sampai 20 tahun, ada juga yang di atas yang lebih senior ada, otomatis juga kena dari garis (aturan) tersebut. Jadi secara administrasi kami gugur," terang Amik.

"Sayang sekali, jadi kami sudah belasan tahun mengabdi, akhirnya dirasionalisasi seperti ini. Akhirnya inisiatif dari kami semua untuk mengeluarkan aspirasi kami kepada Bapak Nyoman Parta. Jadi itu keresahan kami, keluhan kami," ungkapnya.

Amik bersama ratusan sekuriti berharap kepada pimpinan PT Angkasa Pura Supports agar kontraknya bisa diperpanjang dan bisa bekerja kembali tanpa terkecuali.

"Harapan kami bisa bekerja tanpa terkecuali lah, perjuangan kami belasan tahun mengabdi, bahkan ada yang puluhan (tahun). Semoga menjadi bahan pertimbangan juga untuk pimpinan-pimpinan kami. Yang sangat disayangkan karena dua kategori ini bertato dan bertindik; dan batas umur ini kami harus tidak perpanjang kontrak," kata dia.