Korban Terdampak Banjir di Palangka Raya Mencapai 31.013 Jiwa

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 19 Nov 2021 22:59 WIB
Banjir di Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Banjir di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Antara News)
Jakarta -

Wilayah Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kini tengah dilanda banjir. Hingga saat ini, tercatat korban terdampak sebanyak 31.013 jiwa.

Pemerintah Kota Palangka Raya saat ini tengah fokus memenuhi kebutuhan para korban. Dari pengungsian, makanan, hingga obat-obatan.

"Pemerintah kota pun fokus melakukan penanganan bagi para korban, utamanya untuk memastikan kebutuhan tempat tidur, makanan, obat-obatan serta air bersih di pengungsian terpenuhi," kata Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin di Palangka Raya, seperti dilansir Antara, Jumat (19/11/2021).

Pemkot bersama berbagai pihak terkait juga telah mengungsikan para korban di posko-posko yang telah didirikan. Fairid meminta para korban yang mengungsi tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Untuk kebutuhan logistik dan kesehatan kami pastikan aman. Kami juga meminta para pengungsi tetap menerapkan protokol kesehatan agar nantinya tidak muncul klaster baru COVID-19," kata Fairid.

Fairid juga menjamin ketersediaan air bersih untuk kebutuhan pengungsi. Dia menyebut sebagian besar para korban banjir tinggal pengungsian yang disiapkan pemerintah, sebagian lagi tinggal di pengungsian mandiri dan atau di rumah kerabat.

Sementara itu berdasar data yang dikeluarkan BPBD Kota Palangka Raya sampai (19/11) tercatat 31.013 warga yang terdiri atas 8.876 keluarga menjadi korban banjir.

Pada korban itu berasal dari 21 kelurahan dari total 30 kelurahan yang tersebar di lima kecamatan di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah. Jumlah korban banjir terbanyak berada di wilayah Kelurahan Pahandut sebanyak 15 ribu jiwa disusul Kelurahan Pahandut Seberang 4.024 jiwa.

Tak hanya merendam ribuan rumah, banjir juga menggenangi fasilitas umum, seperti sekolah, kantor kelurahan, tempat ibadah, dan pasar.

Sampai saat ini, secara umum kondisi banjir yang melanda Kalteng ini mulai menurun jadi 2-20 sentimeter. Meski demikian warga belum dapat kembali ke rumah karena banjir masih menggenangi permukiman.

"Saya juga meminta masyarakat terutama di wilayah bantaran sungai mewaspadai naiknya air. Jangan biarkan aliran listrik berada di lantai dalam kondisi menyala. Ini berbahaya dan bisa menjadi penyebab korsleting listrik," kata Fairid.

(eva/aud)