Adidas Sebut Wayang Kulit dari Malaysia, Legislator Singgung Pelestarian Budaya

Firda Cynthia - detikNews
Selasa, 16 Nov 2021 21:12 WIB
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda.
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda. (Azizah/detikcom)
Jakarta -

Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda prihatin atas peristiwa Adidas menyebut wayang kulit berasal dari Malaysia. Dia menyinggung soal pelestarian wayang kulit di Indonesia.

"Penyebutan wayang sebagai warisan budaya Malaysia oleh sebuah brand ternama dunia tentu memicu keprihatinan," kata dia saat dihubungi detikcom, Selasa (16/11/2021).

Sebab, ujar dia, Wayang Kulit sebagai warisan budaya yang berasal dari Pulau Jawa telah diakui oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sejak 7 November 2003. Lantas, ia menuturkan bahwa kekeliruan klaim oleh Adidas terkait asal wayang kulit tersebut patut dipertanyakan.

"Tentu sikap UNESCO ini didasari pada riset dan fakta-fakta meyakinkan di lapangan jika wayang memang merupakan budaya asli Indonesia. Jika sekelas brand dunia tidak mengetahui fakta ini tentu menjadi pertanyaan besar. Apakah memang mereka tidak riset dulu, sebelum memunculkan sebuah produk yang dinarasikan sebagai warisan budaya sebuah negara," ujar politikus PKB itu.

"Atau memang hal itu disengaja sebagai sebuah teknik marketing untuk menarik perhatian publik. Jika hal ini dilakukan, tentu agak kurang etis," katanya.

Soal kondisi wayang kulit di Indonesia, Syaiful Huda memberikan gambaran soal eksistensi wayang. Saat ini, pergelaran wayang kulit sudah menurun.

"Kesenian wayang dalam pandangan kami, saat ini sedang memasuki masa transisi agar tetap eksis. Harus diakui dalam satu dekade terakhir pertunjukan wayang mengalami penurunan intensitas dibandingkan dekade-dekade sebelumnya," ujar Syaiful.

Oleh karena itu, ia menilai kekeliruan pengetahuan soal histori wayang kulit itu sebagai hal yang bisa diwajarkan.

"Saya menilai hal ini wajar karena derasnya media sosial saat ini juga mempengaruhi anak-anak muda dalam memilih jenis kesenian yang mereka sukai baik sebagai penonton maupun pelaku," kata dia.

"Namun di masa pandemi ini memunculkan berkah tersendiri karena para pelaku seni wayang mulai melirik platform media sosial untuk mementaskan pertunjukan wayang," sambungnya.

Ia mendorong agar insiden ini dapat memantik pemerintah untuk terus mendorong kegiatan edukasi dan sosialisasi mengenai budaya kepada publik, khususnya wayang kulit. Ia mencontohkan, misalnya dengan pembuatan tempat-tempat pertunjukan budaya.

"Pemerintah tentu harus terus mendorong agar kesenian tradisional termasuk wayang selalu mendapat perhatian agar bisa tetap eksis. Pembuatan tempat-tempat pertunjukan yang memadai di pusat maupun daerah harus dilakukan," ujarnya.

"Tentu dengan penyesuaian-penyesuaian yang mengadopsi perkembangan jaman, termasuk derasnya pengaruh media sosial," pungkas dia.

(aik/aik)