Wayang Kulit Sempat Disebut dari Malaysia, Simak Lagi Seluk Beluknya

Annisa Rizky Fadhila - detikNews
Selasa, 16 Nov 2021 15:00 WIB
Wayang Kulit Sempat Disebut dari Malaysia, Simak Lagi Seluk Beluknya
Wayang Kulit Sempat Disebut dari Malaysia, Simak Lagi Seluk Beluknya (Foto: Robby Bernardi/detikcom)

Wayang Kulit dan Makna Ceritanya

Wayang kulit bukanlah pertunjukan yang asal-asalan. Sebab, dalam setiap ceritanya mengajarkan budi pekerti luhur, saling mencintai dan menghormati. Terkadang juga diselipkan kritik sosial hingga adegan lucu lewat adegan goro-goro.

Wayang kulit merupakan salah satu dari warisan budaya nusantara yang lahir dari masyarakat Indonesia dan punya makna filosofis yang sangat kental. Tak heran, warisan tersebut kian dijaga agar tetap abadi.

Perkembangan Wayang di Indonesia

Dikutip dari situs Kemdikbud, wayang berkembang di Nusantara sejak 1500 M sebagai bagian ritual. Nenek moyang percaya roh orang yang meninggal tetap hidup dan bisa memberi pertolongan.

Sejak awal penyebaran agama Islam, wayang dijadikan sebagai media dakwah dengan penambahan tokoh-tokoh, pengembangan cerita, termasuk penyesuaian jalan cerita. Dengan begitu, jalan ceritanya tidak bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan, pada era modern, wayang digunakan sebagai media propaganda politik.

UNESCO menetapkannya sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 7 November 2003 lalu. Kemudian, wayang masuk ke dalam faftar warisan budaya Takbenda untuk kategori Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity dengan judul The Wayang puppet theatre pada 4 November 2008.

Selanjutnya, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2018, tanggal 17 Desember 2018, Pemerintah resmi menetapkan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional (HWN). Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid menyebutkan, Presiden Joko Widodo langsung menandatangani Keputusan Presiden tentang Hari Wayang Nasional di hadapan perwakilan budayawan dan seniman di Istana Merdeka.


(izt/imk)