Polisi: Pelaku Pinjol Ilegal di Jakarta Didoktrin Tidak Bersosialisasi

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 12:38 WIB
Pinjam Online Abal-abal
Pinjaman online ilegal (Fauzan Kamil/detikcom)
Jakarta -

Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) menggerebek tujuh pelaku pinjaman online (pinjol) ilegal di delapan wilayah di DKI Jakarta dan Tangerang. Polisi membeberkan para pelaku pinjol ilegal didoktrin oleh bos mereka untuk tidak bersosialisasi.

"Dia tertutup, orang di (apartemen) situ nggak ada yang tahu. Ya mungkin doktrinnya begitu (tidak boleh bersosialisasi)," ujar Kasubdit IV Dittipideksus Bareskrim Kombes Andri saat ditemui di gedung Bareskrim Polri, Jumat (22/10/2021).

Adapun sejumlah tersangka pinjol ilegal ini ditangkap polisi di apartemen tempat mereka tinggal. Mereka juga mendapatkan unit apartemen itu secara cuma-cuma karena sudah disediakan oleh bos perusahaan pinjol ilegal tersebut.

Kemudian, Andri membeberkan kondisi kamar pelaku yang menjadi tempat mereka bekerja sehari-hari. Karena sangat tertutup, kata Andri, pelaku melakukan segala aktivitas hanya di dalam kamar, tidak pernah keluar dari apartemen.

Andri menjelaskan kamar tersangka sangat berantakan. Saat menggerebek, polisi juga menemukan obat kuat di dalam kamar pelaku berinisial AY (29).

"Kamarnya itu kayak kamar pecah. Beuh. Itu kan dalam 1 unit ada 2 kamar. Itu berantakan. Berantakan dalam artian, ya, kalau saya sih membayangkan mereka ngapain aja di situ. Karena mereka nggak keluar dari kamar itu. Kita bisa lihat puntung rokok, ada kasur berserakan selimutnya, obat-obat kuat, karena di situ dia tertutup," paparnya.

Lebih lanjut Andri menyebut ketujuh tersangka yang sudah diamankan Bareskrim ini hanya berperan sebagai operator SMS blasting dan desk collector. Mereka melakukan penagihan ke nasabah secara virtual. Andri mengungkapkan cara mereka bekerja.

"Mereka bagian desk collection, mem-blast itu (SMS) semua. Tapi, karena dia pakai sistem, dia udah nampung di situ, dia hanya ubah dikit-dikit, kirim. Kerjanya itu saja. Nambah pulsa, ganti kartu, nambahin karakter, kirim. Makanya sehari dia bisa kirim 100 ribu sampai 150 ribu WA atau SMS," imbuh Andri.

Sebelumnya, Dittipideksus Bareskrim Polri menangkap tujuh tersangka pinjol ilegal dari delapan lokasi di Jakarta dan Tangerang. Jaringan pinjol ilegal ini diduga pernah membuat seorang ibu di Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng), melakukan bunuh diri karena terlilit utang.

Kedua tersangka itu adalah HH (35) dan AY (29). HH mengaku telah bekerja untuk pinjol ilegal selama 9 bulan. Dia biasa mendapat gaji Rp 15 juta per bulan.

"Sebelumnya saya wiraswasta. Sudah kerja di pinjol ilegal 9 bulan. Gaji Rp 15 juta per bulan," ujar HH di gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (21/10) malam.

HH mengatakan awalnya tidak tahu bekerja untuk perusahaan pinjol ilegal. Dia mengatakan sosok yang merekrutnya hanya memberi tahu tugas HH mengirimkan SMS. Namun, seiring berjalannya waktu, HH mulai sadar dirinya kerja di pinjol ilegal.

"Awal direkrut hanya dibilang untuk mengirim SMS. Seiring berjalannya waktu, kita tahu itu adalah pinjol. Awalnya nggak tahu. (Tahunya) dari narasi SMS yang kita terima. Kita bukan bagian neror. Kita hanya meneruskan SMS. Kita bukan yang neror," tuturnya.

HH ditangkap Bareskrim di rumahnya di Cengkareng, Jakarta Barat. HH mengaku sebagai lulusan SMP.

Ada juga tersangka lain, AY, yang ditangkap polisi di Apartemen Laguna Pluit, Jakarta Utara. Dia mengaku baru bekerja selama 3 bulan dan digaji Rp 5 juta per bulan.

"Tiga bulan. Gaji Rp 5 juta. Jam kerja cuma pagi saja sih," kata AY.

AY, yang merupakan mantan karyawan di sebuah rumah makan, mengatakan membutuhkan uang lebih. Akhirnya, dia bergabung dengan perusahaan pinjol ilegal. Dia mengaku baru menyadari tempatnya bekerja itu ilegal setelah 1 bulan bekerja.

AY, yang gaji per bulannya lebih sedikit, diberi akomodasi berupa unit apartemen. Semua alat kerja juga disediakan.

"Benar, berupa satu unit apartemen sendiri. Dari situ kerjanya. Saya di Apartemen Laguna," terang AY.

"(Sadar kerja di pinjol ilegal) satu bulan setelah kerja, saya baru tiga bulan. Sudah sadar sebelum ditangkap. Cuma kan namanya butuh duit," sambungnya.

(drg/yld)