Geger Persekusi hingga Dugaan Pungli di Permata Buana

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 05 Okt 2021 12:40 WIB
Warga Permata Buana Dipersekusi, Lapor Polisi
Rumah Toni, warga Permata Buana, 'didemo hingga diusir'. (Dok. Istimewa)


Intimidasi Warga Permata Buana

Kasus serupa dialami warga Permata Buana lainnya, yakni Candy. Tidak hanya diintimidasi, Candy juga diduga dimintai pungutan liar (pungli) oleh pelaku.

Kuasa hukum Candy, Syair Abdul Muthalib, mengungkap bahwa kliennya mendapatkan intimidasi dari petugas satpam sejak Februari 2021. Kendaraan yang mengangkut material ke rumah Candy dihadang oleh para satpam.

"Kejadian atau laporan tersebut sebenarnya bukan hanya pada saat itu terjadi, tapi memang kejadian itu sudah terjadi sejak bulan Februari 2021 bahwa klien kami terus dilakukan intimidasi dan penghadangan barang-barang material masuk," kata Syair Abdul Muthalib saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (29/9/2021).

Kemudian, Syair mengatakan penghadangan akses kendaraan proyek ke rumah Candy itu dilakukan para satpam yang mengaku merujuk pada surat perintah dari pengurus RW.

Keributan antara warga vs sekuriti di Kembangan, Jakbar (dok.istimewa)Warga Permata Buana cekcok dengan satpam gegara mobil tanaman hias masuk kompleks. (Dok. Istimewa)

Intimidasi Warga: Diminta Bayar Uang Jaminan

Candy disurati oleh pengurus pada 18 Februari 2021. Surat itu berisikan perihal pemberhentian sementara renovasi rumah.

"Terus yang selanjutnya berkaitan dengan surat yang selama ini menjadi rujukan buat satpam untuk melakukan pemberhentian barang-barang klien kami yang masuk, yaitu di mana di dalam surat itu surat tertanggal 18 Februari 2021 tentang pemberhentian sementara renovasi rumah," jelas Syair.

Syair melanjutkan, dalam surat berkop Rukun Warga RW 11 itu, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Candy jika ingin melanjutkan kembali renovasi rumah tersebut.

"Salah satu di antaranya ada permintaan izin pembangunan yang mana izin pembangunan itu nilainya Rp 5 juta. Kemudian ada juga yang namanya uang jaminan pengawasan sebesar Rp 10 juta," ujar Syair.

Kemudian, Syair juga menyebut ada permintaan lain terkait sejumlah uang lain, di antaranya stiker untuk para petugas proyek yang merenovasi rumahnya sebesar Rp 60 ribu per stiker. Kemudian, uang jaminan lainnya terkait masuknya material yang hendak masuk ke rumahnya untuk renovasi.

"Klien kami tidak memberikan uang itu. Terus selanjutnya ada juga permintaan klien kami untuk membangun rumah itu sesuai dengan permintaan jam kerja oleh mereka, yang mana permintaan jam kerja itu dari jam 13.00 WIB sampai 17.00 WIB yang diminta oleh mereka supaya klien kami mengikuti aturan-aturan itu," jelas Syair.

"Bahwa permintaan tersebut kami duga ini bagian dari bentuk pemerasan atau pungli terhadap klien kami," sambungnya.

Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan satu orang sebagai tersangka, yakni kepala sekuriti Permata Buana. Ia menjadi tersangka pengancaman.


(mei/fjp)