Hasil Penelitian Awal Penyebab Air Laut Jakarta Tercemar Paracetamol

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Sabtu, 02 Okt 2021 20:24 WIB
Peneliti itu terdiri dari Wulan Koagouw, Zainal Arifin, George WJ Olivier, dan Corina Ciocan menemukan konsentrasi tinggi paracetamol di Angke, yaitu 610 nanogram per liter, dan Ancol 420 ng/L, keduanya di Teluk Jakarta.
Air di laut Jakarta yang tercemar paracetamol diambil untuk diuji (Foto: (Dok. DLH DKI Jakarta)
Jakarta -

Sebuah studi peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap terdapat kandungan paracetamol di dua titik di Teluk Jakarta, yakni Muara Angke dan Ancol. Salah satu peneliti, Zainal Arifin, menyebut pencemaran paracetamol itu diduga berasal dari pembuangan konsumsi yang berlebihan, rumah sakit, dan industri farmasi.

"Dengan jumlah penduduk yang tinggi di kawasan Jabodetabek dan jenis obat yang dijual bebas tanpa resep dokter, memiliki potensi sebagai sumber kontaminan di perairan. Sedangkan sumber potensi dari rumah sakit dan industri farmasi dapat diakibatkan sistem pengelolaan air limbah yang tidak berfungsi optimal, sehingga sisa pemakaian obat atau limbah pembuatan obat masuk ke sungai dan akhirnya ke perairan pantai," kata Zainal dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (2/10/2021).

Zaenal mengatakan paracetamol merupakan salah satu obat yang sangat banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia secara bebas tanpa resep dokter. Dengan itu, dirinya berniat meneliti soal ada atau tidaknya sisa kandungan paracetamol yang terbuang ke laut.

"Hasil penelitian awal yang kami lakukan ingin mengetahui apakah ada sisa paracetamol yang terbuang ke sistem perairan laut," katanya.

"Kami melakukan dua lokasi utama, yaitu di Teluk Jakarta dan Teluk Eretan. Konsentrasi paracetamol tertinggi ditemukan di pesisir Teluk Jakarta, sedangkan di Teluk Eretan tidak terdeteksi alat," sambungnya.

Sementara itu, peneliti lainnya Wulan Koaguow menyebut riset ini perlu diteliti lebih lanjut. Wulan mengatakan kandungan paracetamol ini akan menjadi potensi bahaya bagi hewan laut dan biota laut lainnya.

"Kami belum tahu karena memang riset kami baru pada tahap awal. Namun, jika konsentrasinya selalu tinggi dalam jangka panjang, hal ini menjadi kekhawatiran kita karena memiliki potensi yang buruk bagi hewan-hewan laut. Hasil penelitian di laboratorium yang kami lakukan menemukan bahwa pemaparan paracetamol pada konsentrasi 40 ng/L telah menyebabkan atresia pada kerang betina, dan reaksi pembengkakan. Penelitian lanjutan masih perlu dilakukan terkait potensi bahaya paracetamol atau produk farmasi lainnya pada biota-biota laut," kata Wulan.

Hasil penelitian BRIN menunjukkan, jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di belahan dunia, konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta adalah relatif tinggi (420-610 ng/L) dibanding di pantai Brasil (34,6 ng/L), pantai utara Portugis (51,2 -584 ng/L). Meskipun memerlukan penelitian lebih lanjut, beberapa hasil penelitian di Asian Timur, seperti Korea Selatan, menyebutkan bahwa zooplankton yang terpapar paracetamol menyebabkan peningkatan stres hewan, dan oxydative stress, yakni ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem antioksidan, yang berperan dalam mempertahankan homeostasis.