Round-Up

Dilema Kratom Lebih Bahaya dari Kokain tapi Diekspor ke Belanda

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 30 Sep 2021 07:31 WIB
Sebagian besar masyarakat Kapuas Hulu mengantungkan hidupnya dari tanaman kratom, terlebih saat pandemi COVID-19. Tak terkecuali bagi Yohanes yus Ady, warga Bika, Kapuas Hulu.
Foto: Petani di wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Kalbar) membudidayakan kratom. (Rachman/detikcom)

Berdasarkan data BNN tahun 2019, kratom daun basah dijual sekitar Rp 8 ribu per kg. Sedangkan remahan kratom dijual Rp 26 ribu per kg.

Lalu untuk bentuk bubuk halus, kratom untuk dalam negeri dipatok pada harga Rp 40-45 ribu per kg. Sedangkan jika diekspor harganya sekitar Rp 100 ribu.

Gubernur Kalbar Akan Surati Jokowi Terkait Eksistensi Kratom di Wilayahnya

Terkait kratom yang menjadi kontroversi, Gubernur Kalbar, Sutarmidji, bakal menyurati Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait eksistensi tanaman kratom. Bagi Sutarmidji, tanaman kratom merupakan komoditas unggulan ekspor dari Kabupaten Kapuas Hulu.

"Kemarin saya sudah bilang ke Menteri Pertanian dan beliau akan bicara dengan presiden," ujar Sutarmidji dilansir dari Antara, Minggu (19/9).

Sutarmidji sendiri sudah mengumpulkan sejumlah data soal tanaman kratom. Surat ke Jokowi akan segera menyusul.

Sutarmidji menyebut tanaman kratom sering kali dikaitkan dengan ganja, padahal efeknya berbeda.

"Mereka bilang kratom itu zat adiktifnya empat kali dibandingkan ganja, tetapi saya katakan bahwa orang yang mengonsumsi kratom tidak berhalusinasi sedangkan mengonsumsi ganja pasti berhalusinasi, bahkan urine orang yang mengonsumsi kratom belum tentu positif," tuturnya.

"Bayangkan pohon kratom puluhan juta kalau ditebang, siapa yang mau bertanggung jawab. Betung Karibun dan Danau Sentarum sudah dijadikan paru-paru dunia oleh UNESCO. Di situ banyak kratom, apa tidak gundul itu paru-paru dunia," jelasnya.

Menurut Sutarmidji, pihak Kantor Staf Presiden (KSP) sudah melakukan pembahasan mengenai tanaman Kratom. Dia mengatakan pihaknya mengedepankan negosiasi dengan Pemerintah Pusat agar tanaman Kratom ini tidak punah.

"Karena di Kalbar saja, petani yang kehidupannya bergantung dari Kratom ada 200 ribuan keluarga. Di Kapuas Hulu saja ada 115 ribu orang yang hidupnya bergantung dari kratom," ucapnya.


(nvl/nvl)