Kronologi Penganiayaan Anggota DPRD Tangerang Epa Emilia Versi Pelapor

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Jumat, 24 Sep 2021 19:37 WIB
Ilustrasi penganiayaan (dok detikcom)
Ilustrasi pengeroyokan (Foto: dok. detikcom)

Kronologi Penganiayaan Versi Epa Emilia

Epa Emilia merasa tertipu lantaran interior rumah belum dikerjakan. Pada Minggu (19/9), ia kemudian mendatangi Jopie Amir, bermaksud menanyakan soal pemasangan interior rumah tersebut.

"Setelah saya berjumpa dengan Jopie, dia mengaku (transfer ke pembuat interior) Rp 175 juta, jadi saya ingin (dia) mengaku bukti transfer, tolong tunjukkan bukti transfernya," katanya.

Saat itu Epa Emilia hendak melihat ponsel Jopie Amir untuk mencari tahu bukti transfer, sehingga terjadi tarik-menarik dengan Jopie Amir.

"Akhirnya terjadilah perdebatan hingga terjadi rebutan HP, tarik-menarik, tangan saya terpelintir sampai saat ini pun masih sakit. Hingga menjerit kesakitan, masuklah Pabuadi untuk melerai. Pabuadi berteriak 'tolong lepaskan', namun Pabuadi dihadang dan dipegangi oleh anak buah Jopie Amier beramai-ramai di TKP," ungkapnya.

Saat itulah terjadi baku pukul antara Pabuadi dan Jopie Amir. Epa mengakui Pabuadi memukul Jopie Amir dengan pistol.

"Hingga Pabuadi meronta dan terjadilah baku hantam saat itu. Saat itulah Pabuadi mengeluarkan pistol mainan yang dipukulkan secara refleks mengenai kepala Jopie yang sedang memelintir tangan saya. Kemudian Jopie melepaskan pelintiran dan bilang, 'Ini kita hanya salah paham, Bang. Marilah berdamai secara kekeluargaan.' Lalu dibuatlah surat pernyataan damai karena ini adalah suatu kesalahpahaman, surat pernyataan damainya ini sudah dibuat," jelasnya.

Epa Emilia mengira persoalan selesai sampai di situ. Namun rupanya, Jopie melaporkan dirinya dan Pabuadi, sopirnya, ke polisi atas tuduhan pengeroyokan.

Epa Emilia merasa Jopie Amir merekayasa kronologi kejadian saat buat laporan di kepolisian. Epa Emilia kemudian melaporkan balik Jopie Amir ke polisi.


(mea/fjp)