Dipolisikan Balik Anggota DPRD Tangerang Epa Emilia, Pelapor: Saksi Banyak!

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Jumat, 24 Sep 2021 10:39 WIB
Ilustrasi penganiayaan (dok detikcom)
Ilustrasi pengeroyokan (Foto: dok. detikcom)


Terjadi Kontak Fisik

Epa Emilia merasa tertipu lantaran interior rumah belum dikerjakan. Pada Minggu (19/9), ia kemudian mendatangi Jopie Amir, bermaksud menanyakan soal pemasangan interior rumah tersebut.

"Setelah saya berjumpa dengan Jopie, dia mengaku (transfer ke pembuat interior) Rp 175 juta, jadi saya ingin (dia) mengaku bukti transfer, tolong tunjukkan bukti transfernya," katanya.

Saat itu Epa hendak melihat ponsel Jopie untuk mencari tahu bukti transfer, sehingga terjadi tarik-menarik dengan Jopie Amir.

"Akhirnya terjadilah perdebatan hingga terjadi rebutan HP, tarik-menarik, tangan saya terpelintir. Sampai saat ini pun masih sakit. Hingga menjerit kesakitan, masuklah Pabuadi untuk melerai. Pabuadi berteriak 'tolong lepaskan', namun Pabuadi dihadang dan dipegangi oleh anak buah Jopie Amir beramai-ramai di TKP," ungkapnya.

Saat itulah terjadi baku pukul Pabuadi dengan Jopie Amir. Epa mengakui Pabuadi memukul Jopie Amir dengan pistol.

"Hingga Pabuadi meronta dan terjadilah baku hantam saat itu. Saat itulah Pabuadi mengeluarkan pistol mainan yang dipukulkan secara refleks mengenai kepala Jopie yang sedang memelintir tangan saya. Kemudian Jopie melepaskan pelintiran dan bilang, 'Ini kita hanya salah paham, Bang. Marilah berdamai secara kekeluargaan.' Lalu dibuatlah surat pernyataan damai karena ini adalah suatu kesalahpahaman. Surat pernyataan damainya ini sudah dibuat," jelasnya.

Epa mengira persoalan selesai sampai di situ. Namun rupanya, Jopie melaporkan dirinya dan Pabuadi, sopirnya, ke polisi atas tuduhan pengeroyokan.

Epa merasa Jopie Amir merekayasa kronologi kejadian saat buat laporan di kepolisian. Epa kemudian melaporkan balik Jopie Amir ke polisi.


Pelapor Mengaku Dipaksa Damai

Setelah dugaan penganiayaan itu, Jopie Amir mengaku dipaksa menandatangani perjanjian damai. Namun belakangan, Jopie Amir melaporkan dugaan penganiayaan itu ke polisi.

"Disuruh paksa nandatangani surat damai," ujar Jopie dalam pesan singkat kepada wartawan, Kamis (23/9/2021).

Menurut Jopie, dia dilarang Epa berobat secara mandiri. Jopie mengklaim diminta berobat sesuai arahannya.

"Untuk berobat saja lebih cepat tetap dilarangnya. Terus saya dipaksa ikut dia berobat. Sangat luar biasa kalau beliau begitu cara penyelesaian perkara ini," kata Jopie.

Sementara itu, kuasa hukum Jopie, Daday, mengatakan kliennya mengalami trauma pascakejadian tersebut.

"Trauma, sakit juga. Luka-luka (saat ini). Menurut beliau sih iya (dibawa ke rumah sakit)," terang Daday.

Laporan Jopie Amir tertuang dalam tertuang dalam bukti tanda laporan bernomor : LP/B/1034/IX/SPKT/Polres Metro Tangerang Kota.


(mea/fjp)