Fenomena Burung Berjatuhan di Gianyar Pernah Terjadi 3 Tahun Lalu

Sui Suadnyana - detikNews
Jumat, 10 Sep 2021 18:59 WIB
Video burung-burung dalam keadaan basah berjatuhan di tanah viral di medsos. Video yang dibagikan sejumlah itu disebut terjadi di Bali. (Facebook Dek Eko)
Video burung-burung dalam keadaan basah berjatuhan di tanah viral di medsos. Video yang dibagikan sejumlah itu disebut terjadi di Bali. (Facebook Dek Eko)
Gianyar -

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Gianyar Made Santiarka bercerita mengenai fenomena burung pipit berjatuhan di Gianyar, Bali. Santiarka mengatakan kejadian serupa pernah terjadi sekitar 3 tahun lalu.

"Waktu tiga tahun yang lalu, ada juga katanya di tempat yang sama menurut pak kelian (kepala dusun). Persis kayak gini juga, banyak sekali yang mati saat hujan lebat tiga tahun yang lalu," kata Made Santiarka saat dihubungi detikcom, Jumat (10/9/2021).

Santiarka menuturkan, gerombolan burung pipit tersebut sudah dari dulu tinggal di pohon asem di kuburan Banjar Sema, Desa Pering tersebut. Setiap sore menjelang waktu tidur sekitar pukul 17.00 Wita, burung-burung beterbangan di atas pohon asem tersebut.

"Dari dulu burung itu sudah tidur di sana, sudah diusir-usir endak hilang. (Diusir) karena kotorannya banyak di bawah. Sampai berapa itu, endak satu kayu satu tenggeran, tapi (sampai) numpuk-numpuk," tuturnya.

Santiarka menduga bahwa kematian burung tersebut terjadi karena ada perbedaan tekanan ke tanah atau ada gas yang tidak cocok dengan pernapasan. Terlebih saat itu cuaca buruk berupa hujan sehingga tekanan udara menjadi rendah dan burung memerlukan energi yang tinggi untuk terbang serta bulunya dalam keadaan basah.

"Seperti burung di rumah saja kalau kita kompres itu awalnya memang endak basah. Karena bulunya terbuat dari bahan karoten. Itu untuk melindungi bulu dari air. Sudah itu ada kelenjar minyak juga di belakangnya di pantatnya itu, itu yang melumasi bulunya sehingga kalau hanya hujan biasa endak akan basah begitu dia," kata dia.

"Ini kan keterlaluan ini cuacanya, sudah hujan angin, sudah lebat sekali sehingga dia enggan terbang, sehingga ya dia sendiri menderita sehingga kedinginan dan mati," jelasnya.

Karena itu, kata Santiarka, saat pagi hari pada Kamis (9/9) kemarin penduduk banyak menemukan burung-burung tersebut dalam keadaan basah, ada yang mati maupun hidup. Beberapa burung yang masih sehat dan bulunya kering dapat terbang lagi.

Namun burung-burung yang sudah tidak kuat akhirnya mati. Bangkai burung-burung itu akhirnya dikuburkan di sana oleh warga bersama tokoh masyarakat setempat.

"(Saat penguburan kemarin) kelian dinas ada di sana, bendesa adat juga ada di sana, pak sekdes juga ada di sana waktu saya ambil sampel," tutur Santiarka.

Lihat Video: Ini Dugaan Biang Kerok Burung Pipit di Bali Mati Massal

[Gambas:Video 20detik]



(zap/jbr)