Nono Sampono Beberkan Sederet Ancaman Perkembangan Lingkungan Strategis

Angga Laraspati - detikNews
Jumat, 10 Sep 2021 14:09 WIB
Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono
Foto: DPD RI
Jakarta -

Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono menegaskan dinamika lingkungan strategis terus diwarnai kompetisi dan perebutan pengaruh negara besar. Ini juga telah telah menempatkan Indonesia pada pusat kepentingan global.

Karenanya, Nono mengatakan jika tidak siap dan waspada Indonesia dapat saja tergilas dalam kompetisi global yang tidak mengenal batas dan waktu.

"Perkembangan lingkungan strategis dalam era kompetisi global berdampak pada tingginya dinamika politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, serta geopolitik dan geostrategi global," ujar Nono dalam keterangan tertulis, Jumat (10/9/2021).

Dalam kunjungan ke Lantamal IX di Ambon, Kamis (09/09) kemarin, Nono mengatakan perkembangan lingkungan strategis bisa menghadirkan ancaman militer maupun non militer.

Nono Sampono mengambil beberapa contoh kasus global, salah satunya yang sedang mengemuka saat ini dan sangat berpengaruh terhadap hubungan antarnegara, yakni persaingan dagang antara Amerika Serikat dengan China yang terus meluas ke beberapa sektor dan mengancam perekonomian global.

Oleh karena itu, Nono menyampaikan dinamika perubahan tersebut, menuntut TNI untuk mentransformasi diri menjadi suatu organisasi yang profesional, modern, dan tangguh dengan SDM yang memiliki kompetensi untuk mencapai standar kemampuan dan profesionalisme, sehingga mampu menghadapi berbagai bentuk ancaman nyata.

"Untuk itu prajurit dan PNS TNI dituntut mampu menyikapi secara cerdas terhadap perkembangan lingkungan strategis, upaya adu domba, provokasi, penyalahgunaan media sosial dan serangan siber dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju dan modern," kata Nono.

Nono menilai, ancaman tidak hanya dalam bentuk fisik, tapi juga ancaman nonfisik seperti penanaman nilai-nilai kehidupan asing yang dapat menjadi alat penghancur entitas sebuah peradaban bangsa.

"Untuk menghadapi perkembangan ancaman yang makin beragam, Indonesia perlu menata kembali kekuatannya. Dalam konteks pertahanan negara, permasalahan ini tidak cukup ditangani hanya dari aspek kekuatan utama militer saja," jelas Nono.

Untuk membangun ketahanan nasional setidaknya ada tiga pilar yang harus saling terkait yaitu pemerintahan, rakyat, dan militer. Ketiganya dijalin dalam simpul untuk memperkuat sebuah negara.

"Oleh sebab itu TNI khususnya TNI AL harus berbenah diri dan berubah menjadi lebih baik menuju TNI profesional untuk menjaga Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," imbuh Nono.

Lebih jauh, Nono mengingatkan masih adanya gerakan radikalisme, terorisme serta intoleransi yang mengancam Pancasila dan keberadaan NKRI. Sejak Indonesia merdeka, ideologi Pancasila dan NKRI selalu mendapat rongrongan baik dari dalam maupun dari luar.

"Indonesia masih mendapat ancaman serius berupa gerakan radikalisme, terorisme dan intoleransi. Kita harus waspada terhadap kegiatan yang berupaya meruntuhkan Pancasila sebagai ideologi negara dan mengganggu keberadaan NKRI. TNI dan seluruh rakyat Indonesia harus bersatu padu menjadi benteng kedaulatan bangsa," kata Nono.

(ega/ega)