Gegara Video TikTok, Perempuan Asal Sultra Ditangkap Kasus Pengancaman

Farih Maulana Sidik - detikNews
Selasa, 07 Sep 2021 18:06 WIB
Poster
Ilustrasi media sosial (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Seorang perempuan berinisial SW (46) asal Tomohon, Sulawesi Utara, ditangkap polisi atas dugaan pengancaman melalui ITE. SW mengirim ancaman ke korban, perempuan YP, gegara tak terima postingan video korban di TikTok.

"Bermula dari adanya postingan di TikTok yang ada di akun TikTok pelapor yang kemudian, tersangka yang kami amankan ini merasa tidak terima dengan adanya beredar akun pelapor," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (7/9/2021).

Kejadian bermula pada 19 April 2021. Korban diteror melalui WhatsApp oleh SW.

"Kemudian ada satu kalimat yang disampaikan kepada pelapor dalam bentuk kalimat ancaman kepada si pelapor," imbuhnya.

Ada sejumlah pesan yang bernada ancaman yang dikirim SW kepada pelapor. Tidak terima, korban kemudian melapor polisi.

Tim Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya Jaya di bawah pimpinan Kompol Herman Edco Simbolon dan Ipda Adin Rifa'i kemudian menangkap SW di Tomohon, Sulawesi Utara.

"Hasil penyidikan unsur-unsur persangkaan Pasal 335 KUHP juncto Pasal 29 UU ITE masuk unsur ancaman tersebut, sehingga yang bersangkutan kami amankan di Sulawesi Utara, karena tersangka bertempat tinggal di sana tetapi kejadian di Jakarta," jelas Yusri.

Motif Pengancaman

Kombes Yusri tidak memerinci bentuk pengancaman yang dilakukan oleh tersangka. Namun ia mengungkap motif pelaku mengancam korban adalah tidak suka postingan korban di akun TikTok.

"Pelaku benci dengan postingan pelapor, sehingga timbul satu perkataan kurang etis dan berujung pidana," ucap Yusri.

Terkait hal itu, Polda Metro Jaya mengupayakan untuk mengedepankan restorative justice. Tersangka dan terlapor akan dimediasi polisi.

"Kami upayakan mediasi antara pelapor dan terlapor yang sementara ini sudah kami upayakan. Mudah-mudahan nanti ke depan ada satu kesepakatan bersama, karena inikan ancaman melalui medsos kami kedepankan restorative justice," pungkasnya.

(mea/mea)