Hukum Puasa Nazar yang Benar Seperti Apa? Ini Jawabannya

Rahma Indina Harbani - detikNews
Selasa, 07 Sep 2021 04:47 WIB
Fresh date fruits with almonds on a table
Foto: iStock
Jakarta -

Puasa nazar menjadi salah satu jenis puasa yang tidak asing lagi didengar oleh umat muslim. Simak penjelasan tentang puasa nazar beserta hukumnya berikut ini.

Perlu diketahui sebelumnya tentang definisi dari puasa nazar. Arti kata nazar menurut buku Fikih Madrasah Tsanawiyah yang ditulis oleh Zainal Muttaqin, MA dan Drs. Amir Abyan, MA adalah janji akan melakukan kebaikan dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Baik dengan syarat maupun tidak dengan syarat. Hal inilah yang menjadi pembeda antara dua macam nazar.

Pertama, nazar dengan syarat maksudnya adalah mewajibkan sesuatu atas dirinya karena ada sebab. Misalnya, seorang siswa kelas dua yang bernazar akan berpuasa selama tiga hari bila ia berhasil naik kelas.

Sementara itu, nazar tidak bersyarat artinya mewajibkan sesuatu atas dirinya tanpa ada sebab. Hal ini dicontohkan dari seseorang yang bernazar dengan mengucapkan janji pada diri sendiri dan Allah SWT seperti, "Dengan karena Allah saya akan berpuasa tiga hari dalam minggu ini,"

Nazar dapat dilakukan dengan berpuasa. Untuk itulah kita mengenal puasa nazar. Puasa nazar terjadi karena seseorang bernazar untuk berpuasa, baik nazar itu bersyarat atau tanpa syarat. Orang yang bernazar juga harus memenuhi syarat untuk berpuasa.

Lantas, seperti apa hukum puasa nazar dalam Islam?

Melakukan kebaikan yang mulanya tidak wajib, bila dinazarkan menjadi wajib menurut hukum Islam. Bahkan bila nazar dari seseorang tersebut batal, maka ia wajib mengqadhanya sebagaimana sesuai dengan Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali yang dikutip dari buku Rahasia Puasa Menurut 4 Mazhab karya Muhammad Suwaidan.

Menurut pendapat jumhur ulama, puasa nazar dapat dilakukan kapan saja kecuali di hari-hari yang dilarang seperti hari raya dan hari Tasyriq. Sementara untuk tata cara pelaksanaannya sama dengan puasa wajib lainnya, yakni niat dibaca pada malam hari sebelum puasa nazar.

Berdasarkan penjelasan di atas, hukum puasa nazar adalah wajib. Perintah untuk memenuhi nazar juga termaktub dalam firman Allah QS. Al Hajj ayat 29:

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Artinya: "Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah)." (QS. Al Hajj: 29).

Kemudian dinarasikan pula dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

"Siapa yang bernazar akan mentaati Allah hendaknya ia menepati janjinya," (HR. Bukhari).

Hukum puasa nazar yang diwajibkan ini pun disampaikan oleh Ustadz Irfan Wahyuni. Menurutnya, ketika seseorang sudah berniat untuk puasa nazar, maka hukum berpuasa menjadi wajib baginya meskipun mulanya puasa tersebut hukumnya sunnah.

"Hukumnya menjadi wajib untuk menunaikan nazar itu pada hari-hari yang telah ditentukan saat bernazar walaupun puasa nazhar hukum asalnya tidak wajib," kata Ustadz Irfan yang dikutip detikcom dari laman resmi Kanwil Kemenag Kalsel, Senin (6/9/2021).


Berikutnya Syarat Puasa Nazar apa saja? Klik halaman selanjutnya

Simak juga 'Said Aqil Kupas Pandangan MUI, NU & SKB 3 Menteri untuk Ahmadiyah':

[Gambas:Video 20detik]