Putusan Inkrah, Dosen Unsyiah Aceh Kritik Kampus di Grup WA Dibui 3 Bulan

Agus Setyadi - detikNews
Kamis, 02 Sep 2021 11:56 WIB
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh (Agus-detik)
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Aceh (Agus/detikcom)
Banda Aceh -

Dosen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah/sekarang USK), Aceh, Saiful Mahdi, bakal menjalani hukuman penjara 3 bulan setelah diputus bersalah dalam kasus UU ITE. Saiful dieksekusi karena putusan hukumnya telah berkekuatan hukum tetap (inkrah).

"Hari ini jam 2 siang kita akan mengantar Bang Saiful ke Kejari Banda Aceh untuk dieksekusi. Keluarga sudah siap untuk dieksekusi. Beliau juga sehat, siap dieksekusi. Tidak ada perlawanan apa pun," kata Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Syahrul, yang mendampingi dosen Unsyiah itu saat dihubungi detikcom, Kamis (2/9/2021).

Syahrul mengatakan putusan kasasi dosen Unsyiah itu diketuk Mahkamah Agung (MA) pada Juni lalu. LBH belum menerima putusan utuh dari MA hanya mendapatkan petikan putusan melalui Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh.

Putusan MA menguatkan putusan PN Banda Aceh. Saiful dinyatakan bersalah terkait UU ITE dan dihukum 3 bulan penjara serta denda Rp 10 juta dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 1 bulan.

Setelah adanya putusan tersebut, kata Syahrul, LBH selaku kuasa hukum dihubungi jaksa pada Kamis (26/8) terkait proses eksekusi. LBH awalnya meminta eksekusi dilakukan Jumat (3/9).

"Kemudian jaksa mengirim surat meminta eksekusi di tanggal 2 September. Karena kita nggak akan mengelak, saya dan beliau sadar ini negara hukum, kami memutuskan tetap mengantar Bang Saiful hari ini jam 2," ujar Syahrul.

Menurut Syahrul, LBH dan tim advokasi dari seluruh Indonesia bakal mengajukan amnesti ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mereka akan meminta Presiden bersikap seperti pernyataannya bahwa yang disasar UU ITE bukan kebebasan berpendapat, tapi kriminal murni.

"Nah, kita minta Presiden untuk membuktikan pernyataannya. Permohonan amnesti itu kita ajukan hari ini," ujarnya.

Lihat juga video 'Dosen Pria dan Wanita di UMI Makassar Cekcok, Berujung Saling Pukul!':

[Gambas:Video 20detik]



Simak awal mula kasus diproses hukum oleh polisi di halaman berikutnya.

Sebelumnya, dosen Fakultas MIPA Saiful Mahdi dipolisikan Dekan Fakultas Teknik Taufik Saidi gara-gara komentar di WAG Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh. Dalam keterangan yang disampaikan LBH Banda Aceh, Minggu (1/9/2019), Saiful membuat postingan di grup WA "Unsyiah Kita". Grup tersebut berisi 100 anggota, yang merupakan dosen Unsyiah.

"Innalillahiwainnailaihirajiun. Dapat kabar duka matinya akal sehat dalam jajaran pimpinan FT Unsyiah saat tes PNS kemarin. Bukti determinisme teknik itu sangat mudah dikorup? Gong Xi Fat Cai!!! Kenapa ada fakultas yang pernah berjaya kemudian memble? Kenapa ada fakultas baru begitu membanggakan? Karena meritokrasi berlaku sejak rekrutmen hanya pada medioker atau yang terjerat "hutang" yang takut meritokrasi," tulis Saiful dalam grup tersebut.

Syahrul, mengatakan, akibat postingan tersebut, Saiful kemudian diadukan Dekan Fakultas Teknik Taufik Saidi ke Senat Universitas Syiah Kuala. Pada 18 Maret 2019, Saiful dipanggil oleh Komisi F Senat Universitas Syiah Kuala.

"Namun, oleh anggota Komisi F Senat Unsyiah, dia hanya dimintai klarifikasi atau meminta keterangan, bukan sidang etik. Dengan kata lain, tidak pernah ada sidang etik terhadap Saiful Mahdi oleh Senat Universitas Syiah Kuala," kata Syahrul dalam keterangannya.

Menurutnya, Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal lantas mengirim surat kepada Saiful perihal teguran pelanggaran etika akademik tertanggal 6 Mei 2019. Isi surat tersebut di antaranya:

"Sehubungan dengan surat Ketua Senat Universitas Syiah Kuala Nomor T/302/UN11.1/TP.02.02/2019 tanggal 22 April 2019 tentang Pelanggaran Etika Akademik, maka dengan ini kami meminta kepada Saudara agar menyampaikan permohonan maaf secara tertulis kepada Pimpinan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala dan disampaikan melalui grup WhatsApp "Unsyiah KITA" dan grup WhatsApp "Pusat Riset dan Pengembangan" dalam waktu 1 x 24 jam sejak surat ini Saudara terima. Apabila setelah waktu yang ditentukan Saudara belum menyampaikan permohonan maaf secara sebagaimana tersebut di atas, maka akan diberlakukan sanksi," bunyi surat dari rektor.

Simak berita selengkapnya di halaman berikutnya.

Sembilan hari berselang, yakni pada 15 Mei, Saiful membalas surat tersebut. Dia menyatakan keberatan dengan teguran dari Rektor Universitas Syiah Kuala, karena dia merasa tidak pernah menjalani sidang etik di Senat Universitas Syiah Kuala.

"Surat yang ditujukan langsung Samsul Rizal itu juga ditembuskan kepada Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) di Jakarta," beber Syahrul.

Kasus itu kemudian dilaporkan ke Polresta Banda Aceh pada Juni lalu. Setelah melakukan gelar perkara, polisi menetapkan Saiful sebagai tersangka. Polisi juga sudah memeriksa ahli ITE, ahli bahasa, korban, serta beberapa saksi lainnya.

"Dia dilapor pada bulan Juni kalau nggak salah. Yang lapor itu Dekan Fakultas Teknik," kata Kapolresta Banda Aceh Kombes Trisno Riyanto saat dihubungi detikcom, Minggu (1/9).

(agse/aud)