Blak-blakan Hamid Awaludin

Sebelum Rebut Kabul Taliban Minta Bertemu Jusuf Kalla

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 30 Agu 2021 08:52 WIB
Jakarta -

Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Hamid Awaludin mengungkapkan, pada pertengahan Juli lalu, tokoh Taliban di Doha, Qatar, menghubunginya. Si tokoh meminta agar diberi kesempatan bertemu dengan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Pada prinsipnya, permintaan itu disanggupi tapi, karena kondisi pandemi, tentu menjadi tidak leluasa untuk mewujudkannya.

"Sekitar enam minggu yang lalu saya itu masih teleponan dengan kelompok Taliban. (Mereka) mendesak minta bertemu dengan Pak JK dan saya, tapi kan suasana COVID susah kita tinggalkan (Jakarta)," ungkap Hamid kepada tim Blak-blakan detikcom, Jumat (27/8/2021).

Jusuf Kalla mengagendakan untuk bertemu pimpinan Taliban di Doha, Qatar, pada September mendatang usai menghadiri sebuah konferensi di Edinburgh, Skotlandia. Semula konferensi yang diprakarsai Uni Eropa itu dijadwalkan Agustus tapi diundur ke September karena perkembangan pandemi yang fluktuatif.

"Schedule-nya Agustus, lalu September. Tapi rupanya perkembangan sangat dinamis, sangat cepat sekali pergerakannya," kata Hamid, yang sejak 2017 ditugasi Jusuf Kalla menjadi ketua tim negosiasi antara Taliban dan Afghanistan.

Ia juga mengaku, tiga hari sebelum pasukan Taliban memasuki Kabul, salah satu pimpinannya, Mullah Abdul Ghani Baradar, sempat mengabarkan lewat telepon bahwa mereka akan segera menguasai ibu kota Afghanistan itu. "Kami akan menang, doakan," kata Hamid mengulang percakapannya dengan Baradar.


Beberapa jam setelah pasukan Taliban memasuki dan menguasai Kabul (Minggu, 15 Agustus 2021), Baradar kembali mengabarkan kesuksesan itu melalui telepon kepada Hamid. "Dia memberitahu bahwa mereka sudah di dalam Kabul, doakan," ungkap Hamid. Setelah itu, ia melanjutkan, dirinya segera berkomunikasi dengan pihak pemerintah Afganistan agar tidak muncul prasangka. "Biar fair setiap kali berbicara dengan Taliban saya komunikasikan dengan pemerintah Afghanistan, begitu juga sebaliknya."

Taliban dan pemerintah Afganistan yang sudah bertahun-tahun berseteru, sejak 2017 memilih Indonesia sebagai penengah. Mereka menilai Indonesia punya reputasi dalam penyelesaian konflik Aceh antara RI dan Gerakan Aceh Merdeka pada Agustus 2005. "Sesungguhnya kenapa kedua belah pihak datang ke kita karena itu pengalaman mendamaikan Aceh sebenarnya," jelas Hamid.

Kedua belah pihak yang bertikai pernah ke Jakarta. Presiden Asraf Ghani bertemu Presiden Joko Widodo pada April 2019, dan kelompok Taliban diterima Jusuf Kalla di rumah dinas wakil presiden pada Juli 2019. Rombongan Taliban yang dipimpin Mullah Abdul Ghani Baradar juga sempat salat di Masjid Sunda Kelapa dan di Masjid Istiqlal, berdialog dengan MUI, dan pimpinan PBNU.

(deg/jat)