Blak-blakan Hamid Awaludin

Sejumlah Indikasi Taliban Telah Berubah Versi Hamid Awaludin

Deden Gunawan - detikNews
Minggu, 29 Agu 2021 16:38 WIB
Jakarta -

Sejak 2017, mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Hamid Awaludin ikut terlibat langsung dalam perundingan damai antara kelompok Taliban dan pemerintah Afghanistan. Selama bergaul dengan mereka, ia mendapat kesan bahwa generasi Taliban saat ini berbeda dengan di masa kepemimpinan Mullah Omar sekitar 20 tahun lalu. Di era Mullah Omar, Taliban dikenal tertutup, konservatif, dan fundamentalis.

"Sekarang yang ada lingkaran kekuasaan Taliban berisi orang-orang yang sudah sangat terbuka bahkan mereka berbahasa Inggris dan sudah bertahun-tahun menempuh jalan diplomasi. Kalau mereka belum berubah tentu tak akan diplomasi tapi mengedepankan aksi-aksi suicide," kata Hamid Awaludin kepada Tim Blak-blakan, Jumat (27/8/2021).

Ketika mulai masuk dan menguasai Kabul, ibu kota Afghanistan, dan pusat-pusat pemerintahan kelompok Taliban berjanji akan menghargai hak asasi dan hak-hak kaum perempuan. Janji semacam ini tak disampaikan saat Taliban mulai berkuasa pada 1996 dan bahkan mereka sangat membatasi ruang gerak perempuan.

"Janji itu untuk sementara harus dihargai sampai mereka betul-betul mewujudkannya. Saya melihat sisi positif dan optimisme, mudah-mudahan pandangan saya ini benar adanya," kata Hamid.

Dia dapat memahami bila ada pengamat politik maupun militer yang meragukan sikap Taliban. Tapi sebagai orang yang pernah bertemu dan berkomunikasi langsung dengan para petinggi Taliban maupun wakil dari pemerintahan Afghanistan, akan lebih bijak bila prasangka positif dikedepankan guna menilai mereka.

"Saya ini berkomunikasi langsung dengan mereka di Kabul, Doha, Jakarta. Kalau pengamat yang merasa tahu soal Taliban dan Afghanistan itu, apakah pernah ke Kabul?" kata Hamid menyindir.

Dari komunikasi intens yang telah dilakukannya dengan para tokoh Taliban sejak 2017, kata Hamid, dia berkesimpulan bahwa mereka tidak identik dengan ISIS atau Al-Qaeda. Sebab yang diperjuangkan Taliban semata semata nasionalisme untuk mengusir negara yang dianggap penjajah, yakni Amerika Serikat. Sedangkan ISIS atauy Al-Qaeda berambisi mendirikan kerajaan islam di dunia.

"Taliban dan pemerintahan Afghanistan sudah sama-sama sepakat bahwa negeri mereka berlandaskan Islam. Bedanya, Taliban ingin agar Mazhab Hanafi eksplisit dicantumkan dalam konstitusi sedangkan pemerintahan Afghanistan tidak mau karena faktanya tak cuma Hanafi yang ada di sana," papar Hamid.

(jat/erd)