Kasus Aktif Turun, Anies Sebut Ruang Rawat Diberikan Lagi untuk Non-COVID

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 14 Agu 2021 17:39 WIB
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkap kasus baru dan kasus aktif Corona di Jakarta mengalami penurunan. Dampaknya, kini keterisian rumah sakit di Jakarta kembali turun dan bisa dialihkan pada ruang rawat non-COVID-19.

"Alhamdulillah kasus aktif di Jakarta per tanggal 12 Agustus ini telah turun di bawah angka 10 ribu kasus. Kasus aktif ini adalah jumlah orang yang positif yang masih dirawat di rumah sakit atau yang masih melakukan isolasi mandiri," kata Anies dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube Pemprov DKI Jakarta, Sabtu (14/8/2021).

Anies mengungkapkan terakhir kali kasus aktif DKI Jakarta di bawah 10 ribu pada 22 Mei, kemudian kasus aktif di DKI Jakarta terus meningkat hingga puncaknya pada 16 Juli mencapai 113.137 kasus aktif. Ketika terjadi puncak kasus aktif, seluruh kamar di RS penuh, bukan hanya ICU, kamar rawat inap, antrean masuk IGD panjang hingga ke selasar, dan pihak RS pun harus membangun tenda darurat.

Beragam upaya dilakukan pemerintah untuk menurunkan kasus aktif, dari melakukan penindakan disiplin protokol kesehatan hingga mengurangi mobilitas. Selain itu, penambahan kasus baru harian di DKI Jakarta telah turun. Sebelumnya, puncak pertambahan kasus baru harian terjadi pada 12 Juli dengan 14 ribu kasus baru.

"Kini tepat sebulan kemudian, penambahan kasus harian turun hingga seperempat belasnya. Pengawasan pelaksanaan PPKM level 4 yang berjalan dengan ketat oleh seluruh jajaran Forkopimda, baik Pemprov DKI, Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, dan seluruh aparat wilayah bersama dengan kecepatan melakukan lacak atau tracing warga yang terinfeksi dan kemudian dilakukan isolasi ini, alhamdulillah mampu menurunkan laju kasus baru, kasus harian secara sangat tajam dan penularan kasus baru ini mempengaruhi nilai laju penularan," ujarnya.

Anies mengungkap saat ini laju penularan di Jakarta berdasarkan data dari FKM UI telah melandai atau tepat dari 1,0. Namun Anies meminta semua pihak menjaga agar penyebaran Corona tidak kembali naik.

"Perhitungan terakhir dari tim FKM UI menunjukkan bahwa nilai Rt Jakarta tepat di 1,0. Artinya, pandemi melandai tapi belum benar-benar berkurang. Karena itu, kita harus berikhtiar ekstra, masih ada risiko putar balik atau naik lagi. Nah, saat ini kita sudah di angka 1,00. Bila mobilitas penduduk Jakarta tiba-tiba kembali tinggi, angka reproduction ini akan meningkat lagi. Ini tentu harus kita jaga momentum penurunan nilai Rt ini harus terus dilanjutkan," kata Anies.

Anies mengungkap dampak dari penurunan kasus baru, penurunan kasus aktif, penurunan laju penularan ini adalah berkurangnya beban di rumah sakit. Ia menyebut kini keterisian ruang tempat isolasi di DKI Jakarta berkurang.

"Saat ini keterisian tempat tidur isolasi di rumah sakit adalah 33 persen dan ICU adalah 59 persen. Ini jauh lebih rendah dari rekomendasi ambang batas maksimal oleh WHO, yaitu 60 persen," kata Anies.

Anies mengungkapkan, saat COVID-19 mencapai puncaknya, pemerintah melakukan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan untuk perawatan COVID-19. Saat itu jumlah rumah sakit ditambah menjadi 140 rumah sakit, kemudian dari 6.000 tempat tidur ditingkatkan menjadi 11 ribu tempat tidur.

"Nah, di awal gelombang kedua inilah, pada saat kita berkejaran dengan jumlah kasus baru inilah pentingnya menahan kasus baru dan kasus aktif. Karena kapasitas kesehatan kita bukannya tidak terbatas, tapi jelas ada batasnya. Bila batas itu terlewati, fasilitas kesehatan kita kolaps. Jumlah yang harus dirawat lebih banyak daripada jumlah tempat tidur dan kamar untuk perawatan," ujar Anies.

"Kini alhamdulillah beban fasilitas kesehatan kita sudah turun. Bahkan, bila diperhatikan, karena beban sudah turun, kapasitas perawatan COVID-19 kembali diturunkan untuk memberi ruang bagi perawatan pasien-pasien non-COVID," sambungnya.

Anies mengatakan saat ini pihaknya telah menurunkan jumlah kamar isolasi yang dipakai untuk perawatan COVID-19 menjadi pasien non-COVID-19. Apabila kapasitas perawatan COVID-19 tetap dipertahankan di titik tertinggi, keterisian rumah sakit bisa lebih rendah.

"Jadi sesungguhnya, bila kapasitas untuk COVID-19 terus kita pertahankan di titik tertinggi, keterisian rumah sakit kita bisa jauh lebih rendah daripada 33 persen atau 59 persen. Penurunan beban fasilitas kesehatan ini ikut mencegah kematian warga yang lebih banyak. Karena itu, angka kematian ikut turun," ujarnya.

(yld/idh)