Sopir Bus Antarpulau Minta PPKM Level 4 Tak Dilanjut: Tak Ada Penumpang

Karin Nur Secha - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 13:15 WIB
Suasana di Terminal Kalideres Jakbar
Terminal Kalideres (Foto: Karin/detikcom)
Jakarta -

Nasib Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) apakah akan diperpanjang atau tidak ditentukan hari ini. Namun, sopir-sopir bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) meminta PPKM Level 4 tidak diperpanjang.

Salah satunya, Sutrani (42) yang merupakan sopir bus antarpulau rute PP Jakarta-Lampung-Belitang. Semenjak PPKM Level 4 diberlakukan, Sutrani mengaku jumlah penumpangnya menurun drastis.

"Ya dari mulai PPKM pertama itu lah udah sebulanan ini paling berasa. Wah sangat berkurang ini, banyak penurunan penumpang. Ini aja nggak ada penumpang kayak kuburan ini kan lihat sendiri sepi," kata Sutrani saat ditemui di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Senin (2/8/2021).

Sopir bus antarpulau di Terminal Kalideres (Foto: Karin/detikcom)Sopir bus antarpulau di Terminal Kalideres, Sutrani (Foto: Karin/detikcom)

Sutrani mengatakan, biasanya dia mengantongi pendapatan Rp 500 ribu dalam dua hari. Namun, sejak PPKM Level 4, dia hanya mendapatkan Rp 100 ribu dalam 2 hari.

"Ibaratnya apa ya selain pendapatan berkurang juga ini ya penumpang pada takut karena surat ini itu. Kalau kita mau nyebrang ke Sumatera kan harus pake rapid test antigen ini itu segala macem kan. Jadi penumpang juga ke sini kadang-kadang cuma nanya abis itu udah nggak jadi berangkat gitu," keluhnya.

Keluhan senada juga disampaikan sopir bus rute PP Jakarta-Padang, Angga (35). Angga meminta agar PPKM Level 4 disudahi saja lantaran dia merasa kesulitan saat hendak melakukan perjalanan sebagai sopir bus.

"Menurut saya seharusnya sudah diselesaikan saja ya PPKM-nya karena posisinya agak sulit di jalan kita ini untuk lakukan perjalanan. Apalagi ke Padang ini kita nyebrang kan ya harus ini harus itu. Karena waktu kita juga jadi terganggu gitu," ungkap Angga.

Selain itu, menurutnya, syarat perjalanan untuk penumpang juga memberatkan. Dia pun meminta agar jangka waktu hasil test COVID-19 diubah, mengingat banyak penumpang antarpulau menghabiskan waktu 32 jam di dalam bus.

"Sedangkan masa berlaku antigen kan 24 jam jadi kasian penumpangnya juga. Mau nggak mau kan harus dua kali rapid atau maksudnya dirubahlah kalau bisa ditiadakan saja," kata Angga.

Kendati demikian, menurut Angga, meski penumpang rata-rata mengalami penurunan, akhir-akhir ini peningkatan jumlah penumpang terjadi untuk rute Jakarta-Padang. Dia menduga hal itu lantaran banyak warga yang terpaksa menutup tokonya di Jakarta dan pulang ke kampungnya.

"Nah yang kosongnya dari Padang ke Jakarta, itu pada takut karena takut merantau. Jadi pincang sebelah yang tadinya harusnya dari sini dan sana ramai malah ramainya dari Jakarta pulang ke kampungnya masing-masing. Karena di sini tokonya pada ditutup kan. Banyakan mereka dagang di tanah abang, Cipulir kan pada tutup kan. Jadi dari sini kadang ada, dari sana kosong," ungkap Angga.

Sopir bus antarpulau di Terminal Kalideres (Foto: Karin/detikcom)Sopir bus antarpulau di Terminal Kalideres, Angga (Foto: Karin/detikcom)

Hal ini juga turut dibenarkan Kepala Terminal Kalideres Revi Zulkarnaen. Revi mengatakan, selama masa PPKM level 4 di Jakarta, Kota Padang menjadi tujuan favorit para penumpang.

"Tujuan ke Padang paling banyak, mungkin karena di sini dagangannya pada menurun ya jadi pada mutusin buat pulang ke Padang. Dulu mah ke Jawa itu banyak sekali. Sekarang malah ke Padang paling banyak," tutup Revi.

(mae/mae)