Ombudsman Sebut Antrean Masuk IGD RS COVID Jabodebek Bisa 40 Pasien

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Kamis, 08 Jul 2021 21:27 WIB
Petugas medis melakukan pemeriksaan terhadap pasien COVID-19 di selasar Ruang IGD RSUD Cengkareng, Jakarta, Rabu (23/6/2021). Meningkatnya kasus COVID-19 di ibu kota dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan penuhnya tingkat keterisian kamar perawatan di rumah sakit tersebut sehingga sebagian pasien COVID-19 terpaksa antre untuk mendapatkan tempat perawatan. ANTARA FOTO/Fauzan/hp.
Foto: ANTARA FOTO/FAUZAN
Jakarta -

Ombudsman RI Perwakilan Jakarta Raya mengungkap kondisi terkini RS penanganan COVID-19, khususnya di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodebek). Dalam sehari, Ombudsman menyebut terdapat antrean puluhan pasien COVID-19 di instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit.

Kepala Perwakilan Ombudsman Jakarta Raya, Teguh P Nugroho menuturkan awalnya pihaknya menerima keluhan dari keluarga pasien COVID-19 kritis yang kesulitan mendapatkan kamar isolasi di RS. Sebab, kapasitas ruang isolasi di RS Bogor, Bekasi, Depok, dan Jakarta sudah di atas 90%.

"Kondisi over capacity seperti yang disampaikan Kemenkes benar adanya, BOR dan ICU di semua daerah sudah mencapai angka 90%, jauh di atas standar WHO 60%," kata Teguh dalam keterangan tertulis, Kamis (8/7/2021).

Bahkan, Teguh mengatakan, antrean sudah mulai terlihat ketika pasien hendak memasuki IGD. Sejak awal Juli, Teguh menyampaikan antrean masuk IGD bisa mencapai 40 pasien.

"Sementara antrean untuk masuk ruang IGD sebelum masuk ruang Isolasi dan ICU setiap minggu meningkat dari 10-15 antrean di akhir bulan Juni menjadi rata-rata 20-40 antrean di awal bulan Juli," jelasnya.

Ombudsman pun menindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan cross checking kepada Dinas Kesehatan terkait. Hasilnya, Ombudsman mengindikasi adanya ketidaksesuaian data ketersediaan tempat tidur di website dengan kondisi di lapangan.

Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta (DIY), kehabisan stok oksigen pada Sabtu (3/7). Akibatnya, 33 pasien dilaporkan meninggal duniaFoto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

"Wilayah Kabupaten dan Kota Bogor termasuk wilayah yang antrian IGD nya paling panjang namun daerah lain sama antrenya. Sementara di Siranap, walaupun masih ada rumah sakit yang memiliki tempat tidur di IGD tapi saat dicek data tersebut tidak valid, tempat tidur IGD penuh dan diikuti dengan antrean panjang pasien," ungkapnya.

Ombudsman juga menyoroti lonjakan kasus COVID-19 di Jakarta yang tak kunjung berhenti. Menurutnya, Jakarta sedang menghadapi fenomena gunung es.

"Angka tersebut fenomena puncak gunung es, karena banyak pasien positif (COVID-19) kritis yang tidak tertangani di rumah sakit dan pasien non-COVID yang juga tidak tertangani akibat penuhnya rumah sakit untuk penanganan Covid," ucapnya.

Atas hal ini, Ombudsman merekomendasikan agar pemerintah segera menambah jumlah rumah sakit rujukan COVID-19. Dia mengusulkan agar Wisma Atlet Pademangan, Rusun Nagrak dan Rusun Pasar Rumput sebagai rumah sakit darurat COVID-19 (RSDC).

"Dengan PPKM darurat yang melakukan pengawasan hingga di tingkat RW, seharusnya para suspect COVID-19 dengan gejala ringan dan sedang diarahkan untuk melakukan isolasi mandiri dan memperbanyak tenaga tracer dari mahasiswa kedokteran tingkat akhir di puskesmas-puskesmas terdekat," ucapnya.

"Sementara tenaga kesehatan berizin dan sarana prasarana di wisma-wisma tersebut dapat fokus dipergunakan untuk menangani para pasien kritis yang lebih membutuhkan dengan tambahan sapras," lanjut Teguh.

Simak video '9 Provinsi Kasus Kematian COVID-19 Naik Signifikan':

[Gambas:Video 20detik]

(isa/isa)