Round-Up

Balada Pinangki Vonis Dipangkas Jadi 4 Tahun tapi Tak Dikasasi Jaksa

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 06 Jul 2021 20:36 WIB
Pinangki Sirna Malasari kembali mengikuti sidang lanjutan kasus suap di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (30/11/2020). Sidang menghadirkan 6 orang saksi.
Pinangki Sirna Malasari (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Jaksa penuntut umum (JPU) memutuskan tidak mengajukan kasasi atas vonis Pinangki Sirna Malasari. Kuasa hukum Pinangki juga memutuskan demikian. Dengan begitu, keputusan Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta yang menyunat vonis Pinangki dari 10 menjadi 4 tahun penjara dinyatakan berkekuatan hukum tetap atau inkrah.

Keputusan JPU tak mengajukan kasasi, meskipun vonis Pinangki disunat hingga 6 tahun penjara, memunculkan polemik. Hujan kritik dari berbagai pihak tertuju ke jaksa.

Indonesia Corruption Watch (ICW) tidak habis pikir mengapa Jaksa Agung tidak mengajukan kasasi atas vonis ringan yang dijatuhkan kepada Pinangki. Padahal, Pinangki melakukan korupsi dan pencucian uang yang hanya dijatuhi hukuman 4 tahun penjara. ICW pun mengirimkan pesan satire kepada Jaksa Agung.

"ICW mengucapkan selamat kepada Bapak ST Burhanudin selaku Jaksa Agung dan jajarannya di Kejaksaan Agung karena telah berhasil mempertahankan vonis ringan kepada Pinangki Sirna Malasari," kata penggiat ICW Kurnia Ramadhan kepada wartawan, Selasa (6/7/2021).

Tak hanya ke Jaksa Agung. ICW juga 'menyemprot' Mahkamah Agung (MA).

"Tidak hanya itu, Mahkamah Agung juga telah sukses pula menorehkan noktah hitam dalam upaya pemberantasan korupsi. Sebab, penegak hukum yang mestinya diganjar hukuman maksimal, namun hanya divonis 4 tahun penjara," tutur Kurnia.

Bagi ICW, seluruh penanganan korupsi suap, pencucian uang, dan permufakatan jahat Pinangki Sirna Malasari hanya dagelan semata.

Kritik juga datang dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI). Koordinator MAKI, Boyamin Saiman, menilai alasan JPU tidak mengajukan kasus keliru.

"Nah kalau sekarang kemudian jaksa tidak kasasi dengan alasan kembali ke tuntutan jelas itu namanya suatu yang keliru, suatu yang kemudian mencederai logika yang dibangun sendiri oleh jaksa. Mengingkari memori banding yang dibuat sendiri oleh jaksa bahwa telah setuju dengan hukuman 10 tahun," papar Boyamin dalam keterangan tertulisnya, Selasa (6/7).

MAKI mempertanyakan alasan mengapa jaksa tidak mengajukan kasasi, padahal kemarin ikut mengajukan banding saat Pinangki mengajukan banding. Tak hanya itu, Boyamin menilai mestinya hukuman Pinangki lebih tinggi daripada terdakwa lainnya, yaitu perantara suap Andi Irfan Jaya divonis 6 tahun, sedangkan Djoko Tjandra divonis 4,5 tahun.

"Ada disparitas perbedaan hukuman yang itu sebenarnya malah mencederai rasa keadilan dimana Andi Irfan Jaya 6 tahun, Djoko Tjandra 4,5 tahun, Pinangki malah 4 tahun. Ini kan malah terendah harusnya kan Pinangki itu tertinggi di antara orang ini. Jadi ini malah nampaknya jaksa menutup dirinya atas rasa keadilan ini," papar Boyamin.

Simak juga video 'Eks Ketua KY Harap Rekam Jejak Hakim Penyunat Vonis Pinangki Ditelusuri':

[Gambas:Video 20detik]



JPU sudah lebih dulu menjelaskan alasan mereka tidak mengajukan kasasi. Baca di halaman berikutnya.