Nadiem Ngaku Jadi Menteri karena Masih Ada Penjajahan Dalam Negeri

Eva Safitri - detikNews
Selasa, 29 Jun 2021 19:25 WIB
Nadiem Makarim dan Bahlil Lahadalia resmi mengemban jabatan baru di Kabinet Indonesia Maju.
Nadiem Makarim (Foto: Pool/Rusman/Biro Pers Setpres)
Jakarta -

Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim mengungkap alasannya menerima posisi menteri. Nadiem menilai masih ada bentuk penjajahan di dalam negeri.

"Kenapa saya menerima tugas ini sebagai menteri pendidikan, ya karena sekarang walaupun kita tidak dijajah oleh asing kita punya berbagai macam penjajahan di dalam negeri penjajahan mental, diskriminasi sosio ekonomi, intoleransi, hal-hal itu yang menurut saya harus kita mitigasi dan harus kita serang mulai dari generasi muda," kata Nadiem dalam webinar yang disiarkan YouTube Megawati Institute, Selasa (29/6/2021).

Nadiem menilai cara tercepat melawan penjajahan adalah mengubah karakter generasi. Hal inilah yang menjadi alasan pihaknya mencanangkan program Merdeka Belajar.

"Karena cara tercepat yang paling permanen adalah mengubah karakter daripada generasi sebelumnya. Jadi ini adalah kunci, inilah mengapa sebuah platform pendidikan kita itu berhulu-hulunya itu dari filsafat Ki Hajar Dewantara dan Bung Karno, yaitu 'merdeka belajar'," kata Nadiem.

"Itu adalah filsafat pendiri negeri kita, yang menyebut kemerdekaan berpikir, kemerdekaan jajahan mental adalah luar biasa pentingnya, makanya kita menyebut tujuan dari transformasi pendidikan kita adalah profil pelajar Pancasila," ujarnya.

Nadiem mengatakan butir salah satu profil pelajar Pancasila itu adalah gotong royong. Menurutnya, sikap gotong royong itu dapat diimplementasikan dalam pendidikan.

"Bagaimana itu bisa terjadi kalau gotong royong itu tidak diinstitusikan dinasionalisasikan di setiap jenjang pendidikan, bagaimana kita mengajarkan anak-anak itu kreatif dan kolaboratif kalau proses pembelajarannya tidak berbasis project base, kalau pembelajarannya tidak berbasis menghasilkan suatu karya," ujarnya.

Nadiem menegaskan program kampus merdeka untuk menghapus sekat universitas dan industri ataupun antar-fakultas.

"Itulah mengapa salah satu esensi daripada kebijakan kampus merdeka adalah untuk melepaskan sekat-sekat antara universitas dan industri, melepas sekat antara fakultas ke fakultas lain, melepas sekat antara yang namanya riset atau mengajar atau pengabdian masyarakat. Itu semua kita merdekakan sesuai filsafat Ki Hajar Dewantara dan Bung Karno," ujar Nadiem.

(eva/gbr)