Round-Up

Pembatasan Ketat Dinanti Cegah Kolapsnya Fasilitas Kesehatan DKI

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 13 Jun 2021 21:45 WIB
Sejumlah kendaraan ambulans dan bus sekolah yang membawa pasien COVID-19 antre untuk masuk kawasan Rumah Sakit Darurat  COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta, Kamis (10/6).
Sejumlah kendaraan ambulans dan bus sekolah yang membawa pasien COVID-19 antre untuk masuk kawasan Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta, Kamis (10/6). (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Kasus COVID di DKI mengalami lonjakan drastis. Pembatasan ketat pun dinanti guna mencegah faskes di DKI mengalami kolaps.

Hal itu diungkap oleh Koordinator Humas RSD COVID-19 Wisma Atlet Letkol TNI AL M Arifin. Arifin mengatakan tingkat keterisian tempat tidur di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Jakarta saat ini melonjak menjadi 80,68 persen.

"Pasien datang dari berbagai Puskesmas di DKI. Ini sudah mulai banyak dan sudah agak merata. Ini DKI harus waspada," ujar Arifin, Minggu (13/6/2021).

Dia menuturkan, kebijakan pembatasan ketat perlu dilakukan. Tujuannya, mengendalikan penyebaran di hulu.

"Kebijakan pembatasan ketat minggu depan ini diperlukan. Kalau tidak, akan bisa kolaps faskes (fasilitas kesehatan) yang ada di DKI seminggu ke depan," katanya.

Berikut data terkait persentase hunian di RSD COVID-19 Wisma Atlet per Sabtu, (13/6/2021) pukul 06.00 WIB di Wisma Atlet tower 4,5,6 dan 7.

Jumlah bed: 5.994
Jumlah pasien: 4.836
Sisa bed: 1.158
Persentase bed terpakai: 80,68%
Persentase sisa bed: 19,32%
Pasien masuk: 537
Pasien keluar: 208

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes DKI, Lies Dwi menyebut kondisi saat ini seperti deja vu tahun lalu. Lies menyebut peningkatan kasus aktif COVID-19 tidak hanya terjadi di DKI. Dia menyebut kondisi saat ini mengkhawatirkan.

"Jadi kita sudah lihat kembali ke kondisi deja vu pada tahun lalu di periode yang sama. Kita ada upaya untuk putus penularan, kapasitas kesehatan ditingkatkan beradu dengan rasa kebosanan dan kedisiplinan di masyarakat," kata Lies.

Dia juga meminta masyarakat tidak takut untuk melakukan tes secara mandiri jika memiliki gejala COVID-19. Apalagi saat ini di Jakarta punya tingkat testing yang tinggi.

"Untuk antisipasi kasus naik kita harus naikan kapasitas isolasi dan perawatan. Dulu di periode sebelumnya ada kasus tinggi kapasitas perawatan bisa menyentuh di 1.150, itu periode di bulan awal tahun ini. Saat ini kita kembali akan tingkatkan kapasitas tersebut," jelas Lies.

"Kenapa? Agar bisa support fasilitas kesehatan. Ini juga tidak bisa menjadi andalan utama, karena kita tak boleh biarkan orang sakit lain terlantar karena faskes dipake untuk COVID saja. Jangan sampai faskes di RS kita dedicated hanya COVID saja, karena ini bisa telantarkan pasien lain," sambungnya.

Selain itu, Lies mengatakan Pemprov DKI sudah memiliki beberapa skenario mengantisipasi lonjakan COVID-19. Telah disiapkan juga beberapa tempat isolasi yang bukan di rumah sakit.

"Sudah ada skenario yang kita lakukan, ada tiga skenario yang disiapkan DKI kepada mereka yang tidak bergejala. Dan tentu tracing juga harus ditingkatkan oleh kita bersama," ungkap Lies.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Waduh! Okupansi RS Rujukan Covid-19 Naik Terus Dalam 6 Hari Terakhir"
[Gambas:Video 20detik]