e-Life

Victim Blaming yang Berbahaya bagi Korban Pelecehan Seksual

dtv - detikNews
Selasa, 01 Jun 2021 07:40 WIB
Jakarta -

Pada beberapa kasus pelecehan seksual, yang terjadi kerap kali korban justru disalahkan atas kejadian yang menimpanya. Hal tersebut disebut dengan victim blaming. Korban yang mengalami pelecehan tidak jarang malah makin menyalahkan diri sendiri.

"Mereka merasa dirinya yang salah. Belum lagi karena ada budaya victim blaming, ya. Itu kan jadi lebih menyalahkan lagi gitu," jelas Bunga Astiti, Direktur Yayasan Samahita, pada Jumat (28/5/21) dalam program e-Life.

Terkadang, ketika sudah telanjur menyalahkan diri sendiri, korban sulit menyadari bahwa pelecehan yang terjadi bukanlah salah dirinya. "Padahal kan sebenarnya bukan salah dia, dan itu tuh proses yang susah gitu untuk menyadarkan diri bahwa diriku tuh sebenarnya nggak salah kok. Yang salah kan pelaku," tambah Bunga.

Sebagai korban, hal pertama yang dapat dilakukan adalah menceritakan kejadian yang menimpa kepada orang lain. "Jadi memang mungkin bisa dibilang yang pertama kita memang harus cerita ya, terus speak out. Dan speak out itu kadang-kadang nggak dalam bentuk kita koar-koar di media sosial, nggak gitu juga kan. Kadang-kadang kita memang mungkin ke satu orang dulu yang kita merasa nyaman tentunya dan aman," jelas Bunga.

Setelah menceritakan kejadian yang dialami, hal selanjutnya yang bisa dilakukan oleh korban adalah menghubungi komunitas yang bergerak dalam melawan kekerasan seksual. "Mungkin itu langkah pertamanya, dan setelahnya mungkin kita bisa menemukan sebuah komunitas di mana kita nggak ngerasa sendiri lagi. Kita juga lebih bisa berdamai sama apa yang terjadi ke diri kita, karena umum sekali korban yang mengalami kekerasan seksual itu pasti mungkin ada penyalahan diri," ujar Bunga.

Komunitas yang bergerak melawan kekerasan dan pelecehan seksual dapat membantu korban sebagai pendamping dan ikut mengkomunikasikan apa yang tidak dapat korban sampaikan kepada orang terdekat korban. Korban yang mengalami victim blaming juga dapat menceritakan masalahnya kepada komunitas terkait.

"Di situlah mungkin perannya lembaga seperti Samahita adalah bisa reach out dulu gitu ke kita, karena ada pendamping. Dan pendamping dari Samahita kita pendamping sosial ya, itu bisa bantu ngasih support yang mungkin korbannya tidak dapet dari orang-orang yang mungkin dia pikir bisa dapet support dari mereka. Dan kita bisa bantu untuk menjelaskan juga gitu ke support system korban bahwa, "ini dia butuh support lo, bahwa responsmu ke dia itu seperti ini, seperti ini" gitu," jelas Bunga.

(gah/gah)