e-Life

Ancaman Begal Payudara di Sekitar Kita

dtv - detikNews
Selasa, 01 Jun 2021 06:01 WIB
Jakarta -

Kasus begal payudara yang beberapa waktu lalu terjadi di Kemayoran, Jakarta Pusat, adalah satu dari sekian banyak pelecehan seksual yang terjadi di ruang publik. Sungguh miris, adanya kasus begal payudara ini menunjukkan bahwa semakin tidak ada tempat yang aman di ruang publik.

Direktur Yayasan Samahita Bandung, Bunga Astiti menjelaskan bahwa pelecehan seksual di ruang publik memang kerap terjadi. Hanya saja, tidak banyak yang diliput.

"Sebenarnya sering banget mendengar cerita ini, tapi mungkin yang diliput tidak sebanyak itu. Apa aja jenisnya ada banyak, misalnya kayak tadi, memegang. Itu bisa di kendaraan umum atau di pasar. Ada juga cat calling, manggil-manggil di pinggir jalan. Ada juga, yang sangat ini tuh, eksibisionis. Itu dia menunjukkan kemaluannya di ruang publik, itu juga pelecehan," jelas Bunga di acara e-Life, Jumat (28/05/21).

Salah satu penyebab langgengnya pelecehan seksual di ruang publik adalah karena masyarakat menormalisasi hal ini. Misalnya, adanya sebuah pola pikir yang menganggap bahwa perempuan adalah objek.

"Seakan mereka bisa memperlakukan perempuan di ruang publik atau ruang privat seenaknya. Sayangnya ini direproduksi terus di tayangan televisi, iklan, media massa, media sosial. Akhirnya kita sebagai masyarakat mulai menganggap itu hal yang normal," kata Bunga.

Tak hanya itu, ketika seseorang mengalami pelecehan seksual, masyarakat cenderung menyalahkan korban. Oleh karena itu, Bunga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk mencegah pelecehan seksual terjadi, salah satunya dengan memberi dukungan kepada korban dan bukan menyalahkan mereka.

"Untuk kasus begal payudara ini, kan bisa dilihat ada intervensi dari publik. Ini memperlihatkan bahwa banyak orang yang sadar kalau itu adalah pelecehan. Itu hal baik, dan memang perlu lebih banyak orang lain di luar sana yang aktif jadi saksi. Melihat kejadian kekerasan seksual, mereka langsung menegur, atau menanyakan kondisi korban," katanya.

Saat korban mengalami pelecehan seksual, mereka biasanya tidak bisa bereaksi dengan cepat. Kondisi ini disebut dengan tonic immobility, yang bisa disebabkan oleh rasa syok, takut, atau terkejut. Penting bagi orang di sekitar korban untuk tidak menyalahkan korban karena tidak segera membela diri saat mengalami pelecehan.

Mengenai apa yang bisa kita lakukan untuk melawan tindak pelecehan seksual di ruang publik, Bunga menyarankan agar masyarakat bereaksi jika terjadi pelecehan seksual di sekitar mereka.

"Ketika kamu melihat pelecehan terjadi, terus kamu mikir, 'Oh ini nggak bener,' itu sudah bagus. Lihat situasi, kalau kamu takut mengintervensi karena kamu nanti malah dalam bahaya, sebaiknya tidak usah. Tapi kalau karena takut dibilang nggak asik oleh teman-teman, ya harus berani untuk melawan arus itu," terang Bunga.

(gah/gah)