Cerita Warga Desa Miliarder di Sulsel, Ada yang Terima hingga Rp 10 M

Hermawan Mappiwali - detikNews
Sabtu, 22 Mei 2021 08:45 WIB
Makassar -

Sekitar 400 warga Desa Kale Komara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel), mendadak jadi orang kaya baru (OKB) setelah menerima ganti rugi lahan di pembangunan bendungan Pammukkulu. Besaran ganti rugi warga bernilai ratusan juta rupiah hingga Rp 10 miliar.

"Ada (dapat Rp 10 miliar). Haji Rahman. Memang banyak lahannya dia. (Warga lainnya) ada yang Rp 2 miliar, ada Rp 3 miliar, ada hampir Rp 4 miliar. Ada juga Rp 1 miliar lebih," kata kepala dusun setempat, Abdul Salam (50), saat berbincang dengan detikcom, Jumat (21/5/2021).

Hasil ganti rugi lahan tersebut kemudian banyak digunakan warga untuk memborong kendaraan. Disebut ada ratusan unit motor dan puluhan unit mobil berbagai merek yang langsung diborong warga tak lama setelah uang ganti rugi lahan mereka terima.

"Oh iya, mungkin sempat viral itu. Banyak yang beli motor, ada juga yang beli mobil. Ada beli Rush, Fortuner 2, Kijang Innova, Avanza Veloz, Corolla Cross, pokoknya macam-macam, ada yang beli pikap, ada juga tongkang, macam-macam," kata Abdul.

"Lebih banyak lagi kalau motor, lebih seratus unit. Ada beli dua, tiga, tergantung jumlah keluarganya. Kalau tidak ada motornya, dia belikan. Kebetulan ada uangnya," sambung Abdul.

Ratusan warga yang menerima ganti rugi tak hanya kehilangan lahan, banyak di antara mereka yang juga harus kehilangan rumah mereka setelah lahan rumah tersebut akan masuk dalam area bendungan.

Seperti halnya dengan warga bernama Nurnia Daeng Nai. Wanita berusia 50 tahun itu harus membongkar dua unit rumah miliknya.

"Kehilangan dua rumah ini, sawah, semua," jelas Nurnia saat ditemui terpisah.

Sebagai gantinya, Nurnia telah menerima uang ganti rugi senilai Rp 2,5 miliar. Dia juga mengaku masih akan menerima uang ganti rugi lahan selanjutnya yang nilainya sekitar Rp 1 miliar lebih.

"Yang telah saya terima sekarang sudah 5 kaveling termasuk (lahan beserta) rumah sekarang, Rp 2,5 miliar," sebut Nurnia.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Nurnia telah menyiapkan lahan pengganti untuk membangun rumahnya kembali. Dia juga telah membeli dua unit mobil dari hasil ganti rugi lahan.

"(Uangnya) tidak dipakai semua, disimpan untuk pakai bangun rumah lagi nanti karena pindah. Ya saya sudah beli mobil satu unit, mobil Corolla Cross harga Rp 471 juta sama beli satu pikap," jelasnya.

Bernasib sama, seorang warga lainnya yang bernama Herlina mengaku kehilangan rumah yang mereka tempati selama ini. Dia kemudian menerima uang ganti rugi Rp 1,8 miliar, yang akan dia gunakan sebijak mungkin.

"Pertama beli dulu lahan baru untuk bangun rumah baru, kemudian saya beli lagi kebun, belikan juga anak-anak motor dan satu unit mobil untuk keluarga. Mobil Avanza Veloz sekitar Rp 270 juta. Kalau motor dua unit," kata Helina (39) secara terpisah.

Menariknya, Herlina sejak awal mengaku tidak mengetahui secara pasti nilai ganti rugi lahan miliknya per meter. Dia mengaku selama ini hanya mengira-ngira sendiri.

"Sebenarnya itu masih 50:50. Kan tidak tahu berapa harganya karena tidak pernah dia transparan bilang per meter sekian (harganya). Sampai pembayaran pun kami tidak tahu berapa harganya per meter. Jadi setelah keluar ini ganti rugi, baru kita bisa hitung (sendiri), itu harga tanah dengan luas tanah kan kita bagi, jadi tahu bilang berapa per meternya," jelas Herlina.

Meski demikian, Herlina menyebut warga banyak yang menerima uang ganti rugi lahan tanpa mempertanyakan berapa nilai lahan per meternya. Sementara dia sendiri mengaku ingin tahu.

"Kalau yang lain masa bodoh berapa, tapi kita kan mau coba-coba tahu ya karena berapa kira-kira harga tanah ini. Di situ kan harga tanah sekian dengan luas tanah sekian, harga dengan luas tanah itu kita bagi, ternyata harga tanah itu mencapai Rp 32 ribu per meter," imbuhnya.

(rfs/rfs)