Kabar Terbaru Vaksin AstraZeneca: Efikasinya Disebut 86%

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Rabu, 05 Mei 2021 17:19 WIB
Jerman Batasi Vaksin AstraZeneca Hanya untuk Lansia atas Alasan Keamanan
Vaksin AstraZeneca (Foto: DW News)
Jakarta -

Vaksin AstraZeneca disebut efektif mencegah infeksi virus Corona (COVID-19) hingga 86 persen setelah suntikan dosis pertama. Efikasi vaksin itu didasarkan penelitian Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA).

Diketahui vaksin AstraZeneca jadi salah satu jenis vaksin yang banyak digunakan negara-negara di dunia. Selain diproduksi di Inggris dengan kerja sama Universitas Oxford, vaksin ini diproduksi di sejumlah negara, seperti Korea Selatan, India, dan Thailand.

Lantas bagaimana kabar terbaru Vaksin AstraZeneca yang disebut memiliki efikasi hingga 86 persen? berikut ulasannya

Efikasi Capai 86 Persen

Hasil efikasi vaksin AstraZeneca itu didasarkan pada penelitian yang dilakukan dari 3,5 juta orang berusia 60 tahun ke atas di Korea Selatan selama dua bulan pada 26 Februari lalu, di mana sekitar 521.133 orang sudah divaksin dosis pertama dari vaksin Pfizer ataupun AstraZeneca.

Dari 1.237 kasus COVID-19 dalam data itu, hanya 29 kasus yang berasal dari kelompok yang divaksinasi.

"Hal ini terbukti bahwa kedua vaksin memberikan perlindungan yang tinggi terhadap penyakit setelah dosis pertama. (Orang) harus mendapatkan vaksinasi penuh sesuai jadwal yang direkomendasikan, karena tingkat perlindungan akan meningkat setelah dosis kedua," kata KDCA, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (5/5/2021).

Keunggulan Vaksin AstraZeneca

Ada sejumlah keunggulan vaksin AstraZeneca yang menjadikan vaksin ini banyak dipakai di sejumlah negara. Keunggulannya antara lain harganya yang lebih murah dan vaksin dapat disimpan di suhu udara yang tidak terlalu dingin.

Keunggulan ini membuat negara-negara pemesan vaksin AstraZeneca tidak perlu menyiapkan alat pendingin canggih untuk menyimpan vaksin.

Vaksin ini pertama kali menerima izin penggunaan darat di Inggris Raya pada akhir Desember 2020, yang kemudian dipakai di Uni Eropa dan negara-negara lainnya.

Kasus Pembekuan Darah

Mengenai polemik pembekuan darah, seperti dilansir BBC, regulator Obat Inggris (MHRA) menyelidiki kasus pembekuan darah langka di Inggris pada orang yang baru saja menerima vaksin Oxford-AstraZeneca.

Ditemukan bahwa 79 orang--dua pertiga dari mereka perempuan--mengalami pembekuan darah setelah menerima dosis vaksin pertama. Sembilan belas dari mereka meninggal.

MHRA mengatakan sekitar empat dari sejuta orang bisa mengalami pembekuan darah. Sementara itu, regulator obat-obatan Inggris itu mengatakan belum terbukti suntikan vaksin menyebabkan pembekuan.

"Manfaat vaksin AstraZeneca lebih besar daripada risiko virus--rawat inap dan kematian--bagi sebagian besar orang," kata Kepala MHRA, Dr June Raine.

(izt/imk)