8 Fakta soal Mafia Karantina di Pintu Masuk Indonesia

ADVERTISEMENT

Round-Up

8 Fakta soal Mafia Karantina di Pintu Masuk Indonesia

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 28 Apr 2021 07:14 WIB
Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) melakukan perubahan jalur pemeriksaan berkas izin perjalanan. Sebagaimana diketahui kemarin penumpang berdesak-desakan.
Foto ilustrasi (Ari Saputra/detikcom)

3. Dapat Rp 6,5 karena bebaskan karantina

JD, orang Indonesia yang pulang dari India via Bandara Soetta, bisa lolos kewajiban karantina 14 hari karena membayar S dan RW. Nominal duit yang dibayarkan JD ke S dan RW adalah Rp 6,5 juta.

"Dia (JD) membayar Rp 6,5 juta kepada S," kata Yusri Yunus.

4. Sudah dua kali bebaskan JD dari karantina

Aksi S dan RW memasukkan JD dari India ke Indonesia tanpa karantina dilancarkan mereka pada Minggu (25/4). Ternyata, itu bukan kali pertama mafia karantina ini beraksi.

"Sudah diakui oleh JD ini sudah yang kedua kalinya untuk bisa pada saat keluar ini bisa langsung tanpa karantina dan kembali ke rumah dengan imbalan Rp 6,5 juta," kata Yusri Yunus.

Terbuka Kemungkinan Pengemudi 'Koboi' Juga Jadi Tersangka Kasus LakaKabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus (Fathan/detikcom)

5. Mengaku pegawai Bandara

S dan RW melancarkan aksi mafianya dengan mengaku-ngaku sebagai pegawai protokol Bandara Soekarno-Hatta. Tentu saja, itu cuma kedok. Mereka sebenarnya adalah mafia berbahaya.

"Mengaku sebagai protokol di bandara. Setelah kita dalami ternyata memang dia sering berkecimpung di bandara tersebut," ujar Yusri.

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soetta juga telah membantah bahwa S dan RW adalah pegawainya. Dia menyayangkan peristiwa ini bisa terjadi.

"Itu bukan pegawai KKP," kata Kepala KKP Bandara Soetta, Darmawali Handoko, saat dihubungi, Selasa (27/4).

6. Pakai kartu Dinas Pariwisata DKI

Dalam melancarkan aksi mafiosonya, S dan RW menggunakan kartu pas Dinas Pariwisatadan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta. Hal ini diketahui saat polisi memeriksa pelaku.

"Dari pas bandara yang ada pada mereka disebutkan di pas bandara tersebut: Dinas Pariwisata DKI," kata Kapolres Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) Kombes Adi Ferdian Saputra saat dihubungi detikcom, Selasa (27/4).

Dinas Pariwisata DKI membantah bahwa S dan RW adalah pegawainya. "Kita luruskan bahwa kedua oknum ini bukan pegawai Dinas Parekraf, bukan ASN, bukan honorer, bukan PDLP. Kami tidak mengenal dan tidak pernah merekomendasikan. Jadi ini oknum," kata Plt Kepala Disparekraf DKI, Gumilar Ekalaya, Selasa (27/4).

7. Tak ditahan polisi

Polisi memang telah menangkap S dan RW yang merupakan mafia karantina COVID-19, sekalian JD yang menggunakan jasa S dan RW. Namun demikian, mafia karantina tersebut tidak ditahan. Mereka dijerat UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan dan UU Nomor 4 Tahun 1989 tentang Wabah Penyakit.

"Semuanya nanti kita nggak bisa dilakukan penahanan karena ancamannya di bawah 5 tahun," kata Kombes Yusri Yunus.

8. Dua orang India pakai jasa mafia juga

Belakangan diketahui, ada dua warga negara India yang masuk Indonesia dan juga menggunakan jasa mafia karantina sejenis S dan RW. Meski begitu, mafia yang meloloskan orang India itu bukan S dan RW alias beda orang.

"Kita akan susuri semuanya, nantinya karena pengakuan warga negara asing yang sudah kita amankan ini dua orang ini modus dengan hampir sama tapi dengan orang yang berbeda. Makanya masih kami dalami," kata Kombes Yusri Yunus.


(dnu/dnu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT