RI Bisa Kena 'Tsunami' Corona Jika 7 Juta Orang Tetap Nekat Mudik

Isal Mawardi - detikNews
Kamis, 22 Apr 2021 06:23 WIB
Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman (Dok istimewa/foto diberikan oleh Dicky Budiman)
Foto: Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman (Dok istimewa/foto diberikan oleh Dicky Budiman)
Jakarta -

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyampaikan ada sekitar 7 juta orang hendak mudik dan mengabaikan larangan pemerintah. Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, mengingatkan masyarakat mengenai ledakan kasus Corona yang saat ini tengah terjadi di India.

"Ini kesempatan pemerintah dengan banyak pihak untuk mengedukasi publik menggunakan contohnya terkini di India," ujar Dicky saat dihubungi detikcom, Rabu (21/4/2021).

"Bagaimana pengabaian terhadap 5 M oleh masyarakat dan juga 3 T oleh pemerintah akhirnya menghasilkan situasi terburuk India dengan kasus lebih dari 300 ribu (kasus Corona) per hari dan kematian juga banyak," sambungnya.

5 M yang dimaksud Dicky adalah Memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi. Sementara itu 3 T adalah pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment).

Ledakan kasus Corona di India, lanjut Dicky, karena banyaknya warga yang mudik serta mengabaikan protokol kesehatan.

"Ini pelajaran penting bahwa apa yang terjadi di India sangat mungkin terjadi di Indonesia, karena mereka mengalami itu (ledakan Corona) karena longgar aktivitas mudiknya, (musim mudik) mereka itu terjadi di beberapa (hari) dari Desember (2020)-Januari (2021) kemarin, terutama pada Februari-Maret," jelasnya.

"Ini (India) mengalami dampaknya akibat juga merasa optimisme berlebihan, merasa situasi sudah terkendali dan Ini menimbulkan rasa aman yang semu," tutur Dicky.

Sementara itu, epidemiolog dari Universitas Airlangga Laura Navika Yamani menyebut ada usaha dari pemerintah untuk meminimalkan mobilisasi warga melalui kebijakan larangan mudik. Namun usahanya, kata Laura, tidak 100 persen.

"Jika pun sekitar 7 juta orang yang kemungkinan akan mudik, hendaknya masyarakat harus memahami apa yang harus dilakukan ketika mudik agar tidak berisiko pada penyebaran kasus. Tentunya dengan penerapan protokol yang ketat dan disiplin," terang Laura.

Sebelumnya, Kemenhub menyebut masih ada tujuh jutaan orang yang ingin mudik pada libur Lebaran tahun ini.

"Meskipun mudik sudah diumumkan dilarang, masih ada sekitar 7 juta setelah larangan mudik diumumkan itu masih ada 7 juta orang yang masih berkeinginan untuk mudik," kata juru bicara Menhub Adita Irawati dalam diskusi virtual di YouTube BNPB, Rabu (21/4/2021).

Adita menyebut adanya temuan itu membuat potensi mobilisasi warga pada libur lebaran masih sangat tinggi. Oleh karena itu, pihaknya akan mengantisipasi agar momentum situasi pengendalian COVID-19 kali ini tetap terjaga.

Lihat Video: Hindari Larangan-Macet, Pemudik Bermotor Lintasi Jalur Pantura Malam Hari

[Gambas:Video 20detik]



(isa/haf)