Aksi Lucinta Luna Seluncuran Pegang Sirip Bisa Bikin Lumba-lumba Stres

Sui Suadnyana - detikNews
Minggu, 18 Apr 2021 03:16 WIB
Denpasar -

Aksi selebriti Lucinta Luna seluncuran memegang sirip lumba-lumba diduga melanggar aturan dalam pertunjukan lumba-lumba. Terkait aksi yang viral tersebut, pengelola pun dinilai melakukan pelanggaran.

"Kalau dari sisi video yang saya lihat yang di Instagram itu kan ada dua kali video. Pertama yang Lucinta Luna, satu lagi yang laki-laki itu. Nah itu kan nggak seharusnya seperti itu," kata Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Permana Yudiarso, saat dihubungi detikcom, Sabtu (17/4/2021).

"Jadi hal-hal yang dapat membuat stres dan seterusnya itu, yang berakibat kepada gangguan terhadap lumba-lumba itu nggak diperbolehkan seperti itu. Secara prinsip seperti itu dari sisi kode etik wisata lumba-lumba," imbuh Yudi.

Menurutnya, tindakan Lucinta Luna dan rekannya yang menyentuh dan memegang lumba-lumba sangat berisiko. Risiko yang pertama dapat mengganggu aspek kesehatan seperti adanya transfer penyakit dan sebagainya.

"Risiko kesehatan itu takutnya ada transfer penyakit dan seterusnya. Terus kemudian efeknya apa, ya lumba-lumba stres. Misalkan kalau stres itu kan terganggu biasanya responsnya berubah nih. Misalnya kalau kita dekatin dia menjauh. Nanti ada risiko seperti itu, maka tidak disarankan karena sudah diatur tuh kode etiknya untuk berinteraksi dengan lumba-lumba," terangnya.

Selain berisiko terhadap aspek kesehatan, Yudi mengatakan bahwa aktivitas memegang lumba-lumba tersebut juga sangat rentan terhadap pola perubahan perilaku lumba-lumba.

Di sisi lain, Yudi juga mengkritisi atraksi yang ditampilkan oleh pihak pengelola lokasi wisata tersebut. Sebab menurutnya, atraksi lumba-lumba tidak dilakukan dalam keramba atau dengan posisi terkurung seperti itu. Melainkan harus dilakukan di alam bebas.

"Ya dari sisi kode etik wisata lumba-lumba itu ada ketentuan. Jadi prinsipnya di kode etik itu kan kita kan ada pedoman. Ini diterbitkan Kementerian Kelautan. Jadi kita arahkan melakukan wisata itu di alam liar, bukan di keramba seperti yang terjadi di Bali Dolphin Lodge. Jadi lumba-lumba itu tidak di dimasukkan ke dalam keramba lalu kemudian berinteraksi," kata dia.

Menurut Yudi, ada aturan khusus yang memperbolehkan peragaan satwa liar dalam kondisi tertentu. Hal ini diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 5 tahun 1990 beserta turunannya. Dalam aturan itu, satwa dapat diperagakan di taman safari, kebun binatang, dan sebagainya.

"Nah diatur secara khusus, tapi prinsipnya tidak mengganggu satwa atau memelihara yang ada di lokasinya, tidak stres, kesehatannya dipantau, kesejahteraan hewan atau animal welfare tidak terganggu," tegas Yudi.

Yudi pun memberikan dokumen "Panduan Umum Wisata Lumba-lumba" kepada detikcom. Dalam panduan itu ditegaskan bahwa wisatawan sebagai pengunjung juga harus memiliki pengetahuan dasar mengenai lokasi wisata yang dikunjungi dan karakteristik satwa yang akan dilihat. Hal ini ditujukan agar kegiatan wisata dapat berlangsung memuaskan dan menjamin keselamatan wisatawan.

Dalam panduan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut itu ditegaskan bahwa wisatawan harus menghindari untuk mendekati atau mengganggu satwa yang akan naik ke permukaan air. Panduan itu juga meminta agar wisatawan tidak mengejar atau mengganggu aktivitas satwa terutama pada kondisi sensitif seperti kawin, mencari makan, atau beristirahat.

Sementara itu, pengelola Dolphin Lodge enggan memberikan pernyataan apa pun kepada media saat dikunjungi detikcom beberapa hari lalu di kantornya yang berada di kawasan Pantai Mertasari, Desa Sanur Kauh, Denpasar.

Diketahui aksi Lucinta Luna yang dianggap animal abuse itu terekam dalam video yang diunggah Lucinta Luna. Dalam video itu, Lucinta Luna bersama teman-temannya tampak 'menaiki' lumba-lumba yang berenang. Hal itu membuatnya seakan-akan mengendarai lumba-lumba tersebut.

Kecaman pun kemudian berdatangan. Salah satu kecaman tersebut disampaikan oleh Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan.

"Banyak orang mengira uang & ketenaran dapat membeli dan mengizinkan untuk melakukan apa saja... termasuk kedunguan dan menjadi bodoh," tulis Susi Pudjiastuti, Kamis (15/4).

(jbr/jbr)