detik's Advocate

Suami Nge-ghosting, Bolehkah Saya Nikah Lagi dengan Pria Lain?

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 14 Apr 2021 07:48 WIB
ilustrasi perceraian
Foto: iStock

Untuk mendapatkan jawaban pertanyaan di atas, tim detik's Advocate meminta jawaban dari advokat Edy Gurning, S.H., M.Si. Berikut ini jawabannya:

Terima kasih atas pertanyaan yang telah Anda ajukan. Pertama yang harus disampaikan adalah hukum perkawinan di Indonesia menganut azas monogami, hal sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyebutkan:

Pada azasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.

Namun, pada ayat (2) diatur:

Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan

Dengan begitu, hanya laki-laki saja yang dapat beristri lebih dari seorang dan sebaliknya bagi seorang perempuan tidak dapat bersuami lebih dari seorang.

Fakta yang ada sampaikan, bahwa saudara perempuan anda masih terikat dalam perkawinan dengan suaminya. Karenanya, jika saudara perempuan anda ingin menikah lagi maka harus didahului dengan perceraian dengan suaminya saat ini.

Jika saudara perempuan Anda ingin menikah lagi maka harus didahului dengan perceraian dengan suaminya saat ini.Edy Gurning, advokat

Namun perlu ingat, bagi seorang perempuan yang telah putus perkawinannya maka berlaku waktu tunggu, hal ini diatur dalam Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyebutkan:

Bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu.

Hal ini juga sejalan dengan pengaturan Pasal 40 huruf b Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.

Berapa lama waktu tunggu tersebut? Berdasarkan Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan telah mengaturnya, yakni:

(1). Waktu tunggu bagi seorang janda sebagai dimaksud dalam Pasal 11 ayat Undang-undang ditentukan sebagai berikut :
a.Apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari
b.Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih berdatang bulan ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari dan bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari;
d.Apabila perkawinan putus sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.
(2). Tidak ada waktu tunggu bagi janda yang putus perkawinan karena perceraian sedang antara janda tersebut dengan bekas suaminya belum pernah terjadi hubungan kelamin.
(3). Bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak jatuhnya putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, sedangkan bagi perkawinan yang putus karena kematian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak kematian suami.

Memperhatikan ketentuan di atas, jika alasan putusnya perkawinan bagi saudara perempuan anda adalah karena perceraian, maka waktu tunggu dimaksud adalah 3 kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari bagi yang masih datang bulan dan bagi yang tidak datang bulan ditetapkan 90 hari.

Demikian kami sampaikan, berharap dapat membantu permasalahan yang sedang Anda alami.

Salam dan terima kasih.

Edy Gurning

Edy Halomoan Gurning, S.H., M.Si.
Edy Gurning & Partners
Gedung Gajah Blok AF-AG Lantai 2
Jl. Dr Saharjo Kav. 111, Tebet
Jakarta Selatan

Nah, Anda punya masalah hukum atau bertanya permasalahan agar terhindar dari hukum? Bagaimana cara bertanya ke detik's Advocate? Baca halaman selanjutnya:

Selanjutnya
Halaman
1 2 3