Kali Kedua KPK Pulang dengan Tangan Hampa Kala Geledah Perkara Korupsi

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Minggu, 11 Apr 2021 15:52 WIB
Gedung baru KPK
Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta -

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kerap kali melakukan penggeledahan untuk pengembangan perkara korupsi yang sedang ditangani. Namun akhir-akhir ini, sudah dua kali lembaga antirasuah itu pulang dengan tangan hampa saat menggeledah dua kasus besar. Apa saja?

Masih membekas diingatan kita saat KPK menggeledah terkait perkara bansos Corona yang menyeret Menteri sosial Juliari Batubara. Kala itu, KPK menggeledah rumah anggota DPR RI Ihsan Yunus yang terletak di Jakarta Timur, namun KPK tidak mendapatkan bukti apa-apa.

Bukan tanpa alasan KPK menggeledah rumah Ihsan Yunus. Hal itu karena nama Ihsan Yunus mencuat saat rekonstruksi kasus bansos Corona pada 1 Februari 2021 lalu. Ihsan memperagakan bertemu dengan tersangka Matheus Joko Santoso selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) Kementerian Sosial (Kemensos).

Dari rekonstruksi itu terungkap dugaan Ihsan diduga terlibat dalam pusaran korupsi ini. Selain adanya pertemuan, seorang perantara Ihsan Yunus bernama Agustri Yogasmara alias Yogas diperlihatkan dalam adegan berikutnya menemui Matheus Joko dan Deny Sutarman.

Dalam adegan ke-6, ada transaksi pemberian uang sebesar Rp 1,5 miliar dari tersangka Harry Sidabuke ke Yogas. Sedangkan di adegan 17, Yogas kembali menerima 2 unit sepeda Brompton dari Harry.

Pemberian uang Rp 1,5 miliar dan 2 unit sepeda Brompton itu belum diketahui apa ada keterkaitan dengan Ihsan Yunus atau tidak. KPK masih enggan membeberkan terlebih dahulu.

Penyidik KPK pun menggeledah rumah Ihsan Yunus yang berada Jalan Kayu Putih Selatan 1, Nomor 16, Pulo Gadung, Jakarta Timur, selama kurang lebih 2 jam. Namun ternyata, KPK tidak menemukan dokumen atau barang yang berkaitan dengan perkara ini.

"Penggeledahan tersebut telah selesai dilakukan namun sejauh ini tidak ditemukan dokumen atau barang yang berkaitan dengan perkara ini," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, kepada wartawan, Rabu (24/2).

Saat meninggalkan rumah Ihsan, penyidik KPK memang tampak membawa dua koper berwarna hitam. Ternyata koper tersebut kosong.

"Namun demikian, tim penyidik KPK dipastikan masih akan terus mengumpulkan bukti dan melengkapi pembuktian pemberkasan perkara dengan tersangka JPB (Juliari Peter Batubara) dkk ini," lanjutnya.

Penggeledahan dengan hasil nihil itupun disorot Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI). MAKI menilai penggeledahan yang tak mendapatkan barang bukti tersebut sudah terlambat.

"Lah geledahnya sudah sebulan dari kejadian, emang dapat apa? Agak sulit untuk dapat barang bukti, diduga sudah dibersihin sebelumnya. Sudah sangat terlambat," kata Koordinator MAKI Boyamin Saiman kepada wartawan, Kamis (25/2/2021).

MAKI menilai seharusnya penggeledahan dilakukan sesegera mungkin seusai pengungkapan kasus bansos Corona ini. Dia mengibaratkan penggeledahan itu sebagai perang.

"Penggeledahan, jadi mestinya langsung dilakukan sehingga barang bukti masih utuh dan tidak dihilangkan. Kalau baru sekarang atau nanti, maka diperkirakan barang bukti sudah hilang semua," ucapnya.

"Ibarat perang, penggeledahan itu harus ada unsur kejut dan mendadak. Jika perlu malam hari atau menjelang pagi," tambahnya.

MAKI, kata Boyamin, akan tetap melanjutkan gugatan peradilan karena KPK tak kunjung memeriksa Ihsan yunus. Dia ingin membuktikan dugaan adanya penelantaran 20 izin penggeledahan dari Dewan Pengawas (Dewas) KPK dalam kasus tersebut.

"(Gugatan praperadilan) masih tetap lanjut, karena masih ada yang kurang, yaitu terkait 20 izin penggeledahan belum semuanya dilakukan," katanya.

KPK menemukan masalah baru saat penggeledahan kasus dugaan suap Ditjen Pajak, baca di halaman berikutnya..

Simak juga 'Korupsi Bansos, Aa Umbara dan Anaknya Ditahan di Rutan Berbeda':

[Gambas:Video 20detik]