Sekolah Tatap Muka Perdana Dinilai Memuat Banyak Pelanggaran Prokes

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 17:30 WIB
Uji coba sekolah tatap muka di SMK 15 Jakarta (Foto: Tiara/detikcom)
Uji coba sekolah tatap muka di SMK 15 Jakarta. (Tiara/detikcom)
Jakarta -

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) sebagai kelompok pemerhati pendidikan merilis temuan tentang uji coba pembelajaran tatap muka yang diselenggarakan di beberapa daerah hari ini. Hasilnya, ada sekolah yang masih melanggar protokol kesehatan virus Corona (COVID-19).

"Banyak terjadi pelanggaran prokes atau tidak melaksanakan 3M dengan disiplin di dalam sekolah," kata Kepala Bidang Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri, dalam keterangan pers tertulis, Rabu (7/4/2021).

P2G menyoroti sejumlah sekolah yang melanggar protokol kesehatan, antara lain di Kabupaten Kepulauan Simeulue, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Melawi, Kota Batam, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Situbondo.

Protokol kesehatan yang dilanggar di antaranya tidak menjaga jarak dan menggunakan masker di dagu.

"Contoh kasus yang banyak terjadi, guru dan siswa tidak memakai masker. Adapun memakai masker, tetapi tidak sesuai protokol kesehatan, karena hanya dipakai di dagu saja. Kemudian masih terjadi pelanggaran terhadap 3M lainnya, yaitu tidak menjaga jarak. Menurut gurunya karena faktor anak-anak kangen-kangenan, akhirnya lupa," Iman Zanatul Haeri dalam keterangan pers tertulis,

Iman mendapati banyaknya temuan para guru dan siswa yang berkerumun dan tidak memakai masker di luar sekolah. Bahkan, siswa Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi tidak memakai masker dan tidak jaga jarak saat pulang dari sekolah menggunakan angkutan umum.

"Begitu pula saat siswa dan guru berangkat dan pulang sekolah saat menggunakan angkutan umum, seperti di Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi. Tidak adanya kepatuhan terhadap prokes, di dalam kendaraan umum tidak ada pengaturan jaga jarak. Tentu ini berbahaya bagi kesehatan guru dan siswa," katanya.

Temuan P2G selanjutnya, masih banyak guru yang belum divaksinasi COVID-19, terutama di PAUD, SD, dan SMP. Bahkan, ada pula guru di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang kehabisan vaksin padahal sudah diajdwalkan.

"Vaksinasi bagi guru dan tenaga kependidikan masih belum merata dan belum mencapai target. Laporan dari P2G Daerah di Kabupaten Kepulauan Sangihe (Sulut) vaksinasi baru untuk guru SMA/SMK, tetapi untuk guru PAUD, SD, dan SMP belum kunjung divaksinasi. Lain cerita di Kabupaten Karawang (Jabar), guru dan tenaga pendidikan sudah dijadwalkan vaksinasi, namun setelah sampai di lokasi, diinfokan vaksinnya habis hingga sekarang belum dijadwalkan kembali," tuturnya.

Sementara itu, untuk DKI Jakarta, masih banyak guru swasta yang belum divaksinasi. Padahal hari ini, kata Iman, ada 85 sekolah yang sudah mulai diuji coba.

"Sedangkan di DKI Jakarta, proses vaksinasi guru sedang dilakukan, walaupun sebagian besar khususnya guru swasta belum divaksinasi. DKI Jakarta sudah memulai uji coba pembelajaran tatap muka terhadap 85 sekolah," ujarnya.

P2G kemudian menyoroti penentuan 85 sekolah oleh dinas pendidikan DKI. P2G mempertanyakan mengapa tidak satu pun SMA negeri yang ditunjuk dalam uji coba pembelajaran tatap muka kali ini.

"Namun P2G mempertanyakan, apa dan bagaimana kriteria penentuan 85 sekolah tersebut sebagai piloting oleh dinas pendidikan? P2G menemukan fakta, untuk jenjang SMA, justru dari 85 sekolah, tidak ada satu pun SMA negeri di Jakarta yang menjadi piloting, sebab yang ditunjuk adalah SMA swasta," kata Iman.

Iman menduga tak terdaftarnya SMA negeri sebagai sekolah uji coba karena diduga tidak melengkapi daftar periksa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). P2G menyayangkan SMA negeri di Jakarta tak menyiapkan itu.

"Hal ini diduga kuat karena sekolah SMA negeri di Jakarta belum mengisi dan melengkapi daftar periksa yang dibuat Kemendikbud. Sangat disayangkan, jika SMA negeri di Jakarta belum menyiapkan daftar periksa dan sarana pendukung protokol kesehatan," ungkapnya.

Di Kabupaten Bogor, ada 170 sekolah mulai dari PAUD, SMA hingga SMK yang melakukan uji coba tatap muka. P2G melihat hal itu justru berpotensi penularan massal virus Corona terhadap guru dan murid. Fakta itu menunjukkan uji coba sekolah tatap muka di Kabupaten Bogor dilakukan 70-80 persen.

"Lain lagi fakta uji coba pembukaan sekolah di Kabupaten Bogor terhadap 170 sekolah mulai PAUD-SMA/SMK/MA. Jumlah uji coba yang sangat massal dan besar. Mengingat jumlah total sekolah di Kabupaten Bogor adalah sekitar 230 sekolah. Fakta tersebut menunjukkan, uji coba dilakukan serentak terhadap 70-80 persen sekolah. Akibatnya, uji coba seperti itu justru berpotensi mengancam keselamatan guru dan warga sekolah secara massal. Guru dan tenaga kependidikan (tendik) dipaksa masuk sekolah tatap muka, meskipun belum mendapatkan vaksinasi," ucapnya.

Simak juga video 'Banyak Wali Murid Ragu Sekolah Tatap Muka, Wagub Riza: Tak Kita Paksa':

[Gambas:Video 20detik]



Berikut rekomendasi dari P2G:

Selanjutnya
Halaman
1 2