Karakter Ingin Spesial Dinilai Jadi Sebab Milenial Mudah Terpapar Radikalisme

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Jumat, 02 Apr 2021 06:22 WIB
Ilustrasi teroris (insert) (Luthfy Syahban/detikcom)
Foto: Ilustrasi teroris (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta -

Peneliti Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Naufal Umam menilai kaum milenial rentan terpapar radikalisme. Menurut Naufal, generasi muda memiliki karakter ingin diakui yang mudah dimanfaatkan oleh kelompok terorisme.

"Untuk menargetkan generasi milenial atau usia dewasa muda mungkin ya lebih tepatnya. Memang ada satu karakter khas dari usia ini yang mudah dimanfaatkan untuk terlibat dalam tindak terorisme atau setidaknya berbaiat terhadap kelompoknya," kata Naufal kepada wartawan, Kamis (1/4/2021).

Karakter itu, kata Naufal, adalah keinginan yang kuat untuk menjadi bermakna dari suatu kelompok. Naufal menyebut para milenial memiliki perilaku ingin dipandang independen oleh lingkungan dia berada.

"Keinginan kuat untuk merasa dirinya spesial, berharga, bermakna atau menjadi bagian dari suatu kelompok yang spesial, berharga, bermakna. Ini adalah usia di mana seseorang mulai dipandang sebagai seorang yang independen dan juga masa di mana seseorang harus menunjukkan mating quality-nya atau seberapa keren, mengagumkan, membanggakan ia untuk dijadikan pasangan," tutur Naufal.

Naufal menuturkan aktivitas terorisme menawarkan kaum milenial itu untuk memenuhi hasratnya memiliki identitas yang istimewa. Naufal juga menilai kaum milenial mudah terpengaruh dengan narasi 'pejuang Allah'.

"Maka secara umum kita bisa lihat usia dewasa muda atau generasi milenial ini akan gandrung terhadap motivasi sukses, gerakan-gerakan sosial, dan terorisme pun menawarkan identitas dan aktivisme yang memenuhi hasrat untuk memiliki identitas istimewa tersebut. Terlebih lagi di saat seperti ini, di mana seakan-akan semua orang dituntut untuk punya personal branding yang wah dari profil media sosialnya," jelasnya.

"Narasi-narasi seperti 'pejuang Allah', 'pelindung umat', 'pembela kebenaran', 'umat pilihan', dan lain sebagainya sangat menggiurkan bagi mereka yang menjalani hidup biasa-biasa saja, apalagi bagi mereka yang hidup berkekurangan. Ini akan menjadi ajang pembuktian bagi mereka. Slogan yang selalu beredar di penganut jihad ini kan juga 'hidup mulia' atau 'mati syahid'," papar Naufal.

"Kalau mereka merasa tidak bisa mencapai hidup mulia tersebut (merasa terlalu bodoh untuk jadi ulama, terlalu miskin untuk jadi dermawan, terlalu kecil untuk bisa berkuasa), mati syahid menjadi pilihan berikutnya." imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3