Bomber Makassar Kaum Milenial, PKB: Kita Sering Kecolongan

Farih Maulana Sidik - detikNews
Selasa, 30 Mar 2021 15:31 WIB
Jazilul Fawaid
Jazilul Fawaid (Foto: MPR)
Jakarta -

Pasangan suami-istri (pasutri) pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar disebut kelahiran 1995, yang artinya masuk kelompok umur milenial. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meminta semua pihak melakukan evaluasi.

"Kita mesti evaluasi diri, masih banyak kelemahan dalam menanggulangi terorisme, bahkan untuk kalangan milenial," kata Waketum PKB Jazilul Fawaid kepada wartawan, Selasa (30/3/2021).

Jazilul menilai aparat yang bertugas mencegah aksi-aksi terorisme sering kecolongan. Dia mendorong pembekalan peralatan yang lebih canggih dalam pencegahan dini aksi-aksi terorisme di Tanah Air.

"Hemat saya, kita sering kali kecolongan, karena mereka punya semangat kuat dan selalu belajar itu harus diimbangi dengan aparatur kita yang harus lebih canggih. Kecolongan kok bolak-balik, kok tidak mampu mendeteksi dini," katanya.

Seperti diketahui, Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar menyebut pasangan suami-istri yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar merupakan kelahiran 1995. Boy menyebut mereka merupakan kaum milenial yang terpapar virus radikalisme.

"Karena teridentifikasi pelaku kelahiran tahun '95, jadi inisialnya L dengan istrinya adalah termasuk tentunya kalangan milenial yang sudah menjadi ciri khas korban dari propaganda jaringan teroris," ucap Boy, Senin (29/3).

Boy lantas menyebut propaganda jaringan teroris saat ini menyasar kalangan anak-anak muda. Dia menyatakan virus radikalisme ini tidak terasa, bahkan tidak kasatmata, tapi lama-lama dapat mengubah watak hingga perilaku toleran seseorang.

"Propaganda jaringan terorisme adalah istilahnya itu dapat saya katakan seperti 'jebakan batman' untuk anak-anak muda, karena pengaruh virus radikalismenya tidak terasa kemudian mengubah watak, mengubah perilaku yang itu sejatinya bukan jati diri bangsa Indonesia. Kita tidak seperti itu, kita dilahirkan sebagai bangsa yang toleran, menjaga persatuan di tengah keberagaman, semangat untuk hormat-menghormati, semangat untuk bertoleransi di tengah perbedaan," ujarnya.

"Virus ini hinggap di kalangan anak-anak muda tidak cepat terlihat, dia tidak kasatmata, tetapi lama-lama terasa akan ada perubahan dari perilaku," lanjut Boy.

Lihat Video: Yang Diungkap Polisi Usai Bom Bunuh Diri Pasutri

[Gambas:Video 20detik]

(fas/gbr)