Bomber di Makassar Kaum Milenial, PD Dorong Penguatan Ketahanan Keluarga

Farih Maulana Sidik - detikNews
Selasa, 30 Mar 2021 13:47 WIB
Politikus Demokrat Didik Mukrianto.
Didik Mukrianto (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta -

Partai Demokrat (PD) merasa prihatin pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar merupakan pasangan suami istri dari kaum milenial yang disebut kelahiran 1995. Padahal generasi muda seharusnya menjadi kekuatan moral, kontrol sosial, hingga menjadi agen perubahan.

"Cukup memprihatinkan kejadian ini apabila identifikasi pelakunya mengarah kepada generasi belia. Padahal harapan kita semua generasi muda mampu menjadi kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan untuk menghadapi setiap tuntutan perubahan yang saat ini sedang mengglobal," kata Kepala Departemen Hukum dan HAM DPP Partai Demokrat, Didik Mukrianto, kepada wartawan, Selasa (30/3/2021).

Didik menyinggung soal dampak negatif dari globalisasi informasi yang sudah borderless serta tidak berbatas ruang, waktu, dan jarak, dalam mengakses apa pun di dunia internet. Menurut Didik, dampak negatif tersebut perlu disadari semua pihak.

"Ini gejala-gejala bahkan perilaku-perilaku menyimpang termasuk potensi terpaparnya generasi muda dari ideologi radikal sangat terbuka lebar. Bahkan tidak sedikit konten di internet, dengan basis ideologi radikal yang menebar kebencian dan kedengkian mencoba mencuci otak para pembacanya. Dengan false truth yang dikemas dengan baik dan terus masif disebarkan akan berpotensi menjadi kebenaran. Ini yang bahaya apabila diakses oleh anak dan generasi mudah kita tanpa pemahaman dan pendampingan yang utuh," jelasnya.

Untuk itu, lanjut Didik, guna mencegah dampak negatif globalisasi yang begitu menakutkan, diharapkan BNPT dan Polri melakukan mitigasi secara utuh terkait dengan tumbuh suburnya jaringan terorisme. Termasuk, kata dia, BNPT dan Polri perlu melakukan patroli media internet, menertibkan, men-take down, serta menindak akun-akun yang memuat konten yang berisi propaganda dan teror serta terorisme.

"Yang juga tidak kalah penting juga, program deradikalisasi terorisme ini juga harus dipastikan menyentuh kepada basis-basis masyarakat dan kepemudaan untuk mencegah munculnya generasi baru dalam terorisme," ujarnya.

Didik mendorong pemahaman nilai-nilai luhur bangsa harus terus digalakkan hingga basis usia dini. Hal itu perlu dilakukan untuk memitigasi munculnya teroris di usia muda.

"Khususnya Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, harus terus digalakkan dan terus dimasyarakatkan dan dibumikan kembali hingga basis usia dini. Dan yang paling basic adalah membangun ketahanan keluarga menjadi pondasi yang paling dasar untuk memitigasi munculnya terorisme di usia muda," katanya.

"Kita harus sedini mungkin memitigasi potensi lahirnya terorisme dari kalangan muda. Jangan sampai bonus demografi yang kita harapkan menjadi anugerah justru menjadi bencana buat bangsa kita," tambahnya.

Seperti diketahui, Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar menyebut pasangan suami istri yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar merupakan kelahiran 1995. Boy menyebut mereka merupakan kaum milenial yang terpapar virus radikalisme.

"Karena teridentifikasi pelaku kelahiran tahun '95, jadi inisialnya L dengan istrinya adalah termasuk tentunya kalangan milenial yang sudah menjadi ciri khas korban dari propaganda jaringan teroris," ucap Boy, Senin (29/3).

(fas/gbr)