BIN Sebut Generasi Alfa Rentan Terpapar Radikalisme di Medsos

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 30 Mar 2021 15:02 WIB
Jakarta -

Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto menyebut generasi alfa rentan terpapar radikalisme dari media sosial. Oleh karena itu, BIN rutin melakukan pemantauan di media sosial mengawasi hoax hingga terorisme.

"Media sosial disinyalir telah menjadi inkubator radikalisme, khususnya bagi generasi muda. Rentang kendali biasanya 17-24 tahun, ini yang menjadi target utama, selebihnya di atas itu second liner," kata Wawan dalam acara webinar 'Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial' yang disiarkan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3/2021).

Generasi alfa, mengacu pada Demografer Mark McCrindle, adalah mereka yang lahir pada 2010-2024. Namun, dalam paparannya, Wawan menggunakan istilah generasi milenial.

Kembali ke paparan Wawan, pengguna internet mengalami peningkatan selama masa pandemi COVID-19. Berdasarkan survei BNPT, ada sekitar 80 persen generasi muda rentan terpapar radikalisme, karena cenderung tidak berpikir kritis.

"Kecenderungannya ini dikuatkan dengan survei BNPT terbaru bahwa 80 persen generasi milenial rentan terpapar radikalisme. Ini menjadi catatan kita bahwa generasi milenial lebih cenderung dia menelan mentah, tidak melakukan cek-ricek. Dan sikap intoleran ini biasanya muncul kepada generasi yang tidak kritis di dalam berpikir," katanya.

Wawan mengungkap potensi radikalisme pada generasi milenial melalui medsos, misalnya banyak sekali konten terkait cara membuat bom. Lebih lanjut ada pula yang mengajak generasi muda bergabung sebagai anggota, diajarkan bagaimana menyerang hingga praktik membuat bom.

"Oleh karenanya, kita selalu memberikan literasi dan patroli cyber kita, dan selalu menyampaikan untuk berpikir menanyakan kepada mereka-mereka yang berkompeten, sumber-sumber yang bisa dipercaya dan sahih," ujarnya.

Kemudian, penyebaran radikalisme melalui media sosial menjadi menarik bagi generasi muda. Sebab, menurut Wawan, generasi muda berada di usia rawan karena kebutuhan jati diri dan eksistensi.

"Penyebaran paham-paham radikal yang sering dibumbui narasi heroisme, kemudahan-kemudahan mengakses internet, dan banyaknya waktu luang. Kemudian konten dan narasi radikal kemudian disebar dengan mudah dan diakses oleh generasi muda," ujarnya.

Oleh karena itu, BIN memantau akun-akun medsos yang terdapat komunikasi terkait penyebaran ideologi terorisme, ideologi radikalisme. Adapun narasi terkait ideologi terorisme yang berkembang misalnya dikemas dengan narasi ketidakadilan.

"Radikalisme generasi muda di media sosial adalah propaganda radikalisme media sosial dikemas dengan narasi ketidakadilan. Pesan tersebut membentuk kesesatan berpikir bahwa tatanan sosial saat ini perlu dibenahi dan generasi muda diposisikan sebagai juru selamat yang mampu mengubah keadaan, salah satunya melalui aksi teror," ujarnya.

Seperti diketahui, Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar menyebut pasangan suami-istri yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar merupakan kelahiran 1995. Boy menyebut mereka merupakan kaum milenial yang terpapar virus radikalisme.

"Karena teridentifikasi pelaku kelahiran tahun '95, jadi inisialnya L dengan istrinya adalah termasuk tentunya kalangan milenial yang sudah menjadi ciri khas korban dari propaganda jaringan teroris," ucap Boy, Senin (29/3).

(yld/tor)