Penjelasan Pertamina soal Pemulihan Lahan Berujung Bentrok di Pancoran

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 18 Mar 2021 17:00 WIB
Gedung Pertamina
Ilustrasi Pertamina (Foto: dok Pertamina)
Jakarta -

PT Pertamina buka suara soal bentrokan yang terjadi terkait sengketa lahan di Pancoran, Jakarta Selatan (Jaksel). Pertamina mengatakan hanya melakukan pemulihan aset di kawasan itu.

"Pertamina tidak melakukan penggusuran, tapi melakukan pemulihan atas aset Pertamina di wilayah Pancoran, Pasar Minggu, Jakarta Selatan," kata Senior Vice President Corporate Communication & Investor Relation Pertamina, Agus Suprijanto, saat dimintai konfirmasi, Kamis (18/3/2021).

Dia mengatakan lahan tersebut merupakan aset Pertamina. Dia menyebut lahan itu dimiliki Pertamina berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA).

"Aset tersebut secara sah dimiliki Pertamina berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) dan rencananya akan digunakan Pertamina sebagai perusahaan BUMN untuk kepentingan negara," ucapnya.

Agus juga mengatakan Pertamina telah melakukan sosialiasi ke warga terkait aset di Pancoran. Menurutnya, sosialisasi dilakukan agar warga mengetahui status hukum lahan tersebut.

"Pertamina melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Training & Consultant (PTC), telah melakukan sosialisasi pra pelaksanaan pemulihan aset milik Pertamina dan membuka posko komunikasi bagi para tokoh dan warga setempat agar mengetahui informasi tentang status lahan dari aspek legal," jelasnya.


Manager Legal PT PTC, Achmad Suyudi, mengatakan lahan itu dinyatakan sebagai milik Pertamina berdasarkan putusan peninjauan kembali (PK). Dia juga menyebut tanah tersebut merupakan bentuk penyertaan modal Pemerintah kepada Pertamina berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No 23/KMK.06/2008.

"Berdasarkan upaya hukum luar biasa yang dilakukan yakni Peninjauan Kembali, Mahkamah Agung mengabulkan bantahan perusahaan dan menyatakan bahwa Pertamina adalah pemilik satu-satunya yang sah dari tanah-tanah dan bangunan beserta segala sesuatu yang terdapat di atasnya," ujar Suyudi.

Lihat juga Video "Luhut: Pertamina Ngawur, Ada Pejabat yang Dicopot Presiden Langsung":

[Gambas:Video 20detik]



Dia mengatakan proses pemulihan aset telah berjalan selama 10 bulan. Suyudi mengatakan ada 75% lahan yang sudah dikembalikan kepada Pertamina.

"Sampai saat ini, sudah lebih dari 75% lahan telah dikembalikan kepada Pertamina, dan semua kami lakukan sesuai prosedur dan tidak ada cara-cara anarkis menggunakan ormas tertentu pada proses pemulihan aset," ujarnya.

Sebelumnya, bentrokan warga akibat sengketa lahan di Jalan Pancoran Buntu 2, Jakarta Selatan, terjadi dini hari tadi. Polisi menyebut ada pihak luar yang menunggangi aksi demo massa.

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Azis Andriansyah mengatakan sebelum bentrokan pecah dini hari tadi, pihaknya telah menginisiasi pertemuan antara warga dan pihak PT Pertamina pada Rabu (17/3) sore kemarin.

Dalam pertemuan tersebut, Azis mengungkap, pihak kepolisian meminta kedua belah pihak sama-sama menahan diri. Hal ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Pada tanggal 17 Maret 2021 Pukul 09.00-12. 00 WIB pihak kepolisian menginisiasi pertemuan antara warga Pancoran Buntu dengan pihak Pertamina, agar kedua belah pihak menahan diri dan menjaga situasi tetap kondusif," jelas Kombes Azis Andriansyah dalam keterangan kepada wartawan, Kamis (18/3).

Namun, pada sore hari datang kelompok massa melakukan unjuk rasa. Massa menutup jalan. Polisi kemudian datang dan meminta warga tak menutup jalan.

Namun pada malam hari, katanya, warga kembali bentrok. Bentrokan di Pancoran Buntu 2 terjadi hingga Kamis (18/3) dini hari. Polisi disebutnya terpaksa menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Massa kemudian bubar dan situasi kondusif.

Forum Solidaritas Pancoran Bersatu menyebut ada 25 warga yang menjadi korban luka akibat bentrokan tersebut. Delapan orang di antaranya disebut mengalami luka berat.

"Korban ada, total korban yang tercatat sama kita ada 23 orang, tambah 2 jadi 25 orang," kata salah seorang anggota Forum Solidaritas Pancoran Bersatu, Ferbina Monica, saat ditemui di lokasi, Kamis (18/3).

(haf/fjp)