Bentrok di Pancoran, Forum Warga Sebut Ada Korban Luka 25 Orang

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Kamis, 18 Mar 2021 14:38 WIB
Lahan sengketa di Jalan Pancoran Buntu 2, jaksel picu bentrokan.
Lahan sengketa di Jalan Pancoran Buntu 2, Jaksel, memicu bentrokan. (Kadek/detikcom)
Jakarta -

Bentrokan sengketa lahan terjadi di Jalan Pancoran Buntu 2, Jakarta Selatan, kemarin malam. Forum Solidaritas Pancoran Bersatu menyebut ada 25 warga yang menjadi korban luka akibat bentrokan tersebut.

"Korban ada, total korban yang tercatat sama kita ada 23 orang, tambah 2 jadi 25 orang," kata salah seorang anggota Forum Solidaritas Pancoran Bersatu, Ferbina Monica, saat ditemui di lokasi, Kamis (18/3/2021).

Dari 25 orang itu, Febrina mengatakan 8 di antaranya mengalami luka berat. Sedangkan 17 orang lainnya mengalami luka ringan.

"Delapan orang luka berat, sisanya luka ringan aja sih," ujarnya.

Ferbina menuturkan korban luka berat sudah dilarikan ke rumah sakit dan saat ini sudah kembali pulang. Satu dari korban luka berat itu mengalami patah tulang dan harus menjalani operasi.

"Ada yang ke rumah sakit, sekarang udah dibawa pulang. Ada satu yang parah banget butuh biaya operasi sampai Rp 18 juta, cuma kita belum ada uangnya jadi dibawa pulang dulu ke sini patah tulang dia," tuturnya.

Febrina mengatakan satu orang yang mengalami patah tulang itu merupakan mahasiswa. Saat ini, mahasiswa tersebut masih berada di rumah sakit.

"Iya mahasiswa. Mau dibawa ke sini soalnya orang tuannya dihubungi belum bisa. Posisi masih di rumah sakit," imbuhnya.

Febrina mengatakan bentrokan terjadi diawali adanya rencana pembongkaran PAUD di lokasi. Bentrokan pada Rabu (17/3) kemarin terjadi setelah warga meminta ekskavator untuk keluar dari PAUD. Warga meminta agar PAUD tidak dirobohkan.

"Jadi kemarin itu tuntutan kita itu supaya backhoe ekskavator keluar, soalnya suka main gusur. Kemarin ada rumah warga yang nggak sengaja kegesek sama si ekskavator, padahal kesaksian anak (pemilik rumah) belum lama baru bangun dari situ," ujar Febrina.

Menurut Febrina, warga telah meminta pihak Pertamina tidak menggusur PAUD tersebut untuk kepentingan pendidikan anak-anak korban gusuran.

"PAUD tuh beberapa bulan ini emang diambil alih sama pihak Pertamina, jadi didudukin untuk pos polisi sama pihak Pertamina kalau datang buat survei mereka stay di PAUD. PAUD ada di atas. Warga yang nuntut, anak-anak kan jadi nggak bisa belajar lagi kan nggak tahu mau ke mana. (Menuntut) ke pihak Pertamina sama polisinya untuk keluar dari PAUD," terang Febrina.

Menjelang pukul 16.00 WIB, Rabu (17/3) kemarin, warga akhirnya bisa menempati kembali PAUD tersebut. Warga meletakkan buku-buku dan peralatan belajar-mengajar di PAUD tersebut.

Hingga akhirnya bentrokan pecah pada malam hari. Bentrokan terjadi antara warga dan ormas.

Kapolres Jaksel Kombes Azis Andriansyah sebelumnya menjelaskan bahwa bentrokan terjadi karena ada pihak luar yang datang menutup jalan.

"Pada pukul 16.00 WIB ada pihak luar yang datang ke lokasi melakukan aksi unjuk rasa dan menutup jalan," kata Azis.

Polisi datang ke lokasi untuk mengamankan aksi tersebut. Polisi mengimbau massa tidak menutup jalan.

"Karena menutup jalan, maka polisi melakukan imbauan agar tidak mengganggu ketertiban," imbuh Azis.

Namun pada malam hari, warga kembali bentrok. Bentrokan di Pancoran Buntu 2 terjadi hingga Kamis (18/3) dini hari.

Polisi terpaksa menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Massa kemudian bubar dan situasi kondusif.

detikcom telah menghubungi pihak Pertamina terkait kejadian ini. Namun hingga berita ini dimuat, Pertamina belum memberikan jawaban.

(mea/fjp)